Berita Kaltim Terkini

6 Daerah di Kaltim Dinilai Masih Tinggi Angka Stunting

Terdapat 6 daerah berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan prevalensi balita stunting

Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
Penanganan kasus stunting di Kalimantan Timur butuh peran semua pihak. Dimulai dari tingkat keluarga. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Terdapat 6 daerah berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan prevalensi Balita stunting di Kaltim masih diatas rata-rata angka Provinsi.

Hal ini membuat harus adanya intervensi dari semua pihak atau stakeholder terkait guna menurunkan angka stunting di Benua Etam.

Tentunya sesuai target yang dicanangkan yaitu 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

Tahun ini 2022 penurunan stunting lebih dari 3 persen, oleh karena itu intervensi spesifik dan intervensi sensitif harus benar-benar dijalankan dengan baik.

Baca juga: GAWAT, Kasus Stunting Capai 42 Persen di Lokasi IKN, Paling Tinggi se-Kabupaten PPU

"Karena target akhir di tahun 2024 menjadi 14 persen," terang Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim Noryani Sorayalita, Senin (3/10/2022).

Soraya mengatakan, presentase stunting di Provinsi Kaltim pada tahun 2021 sendiri sebesar 22,8 persen.

Dari total tersebut terdapat 4 Kabupaten dan Kota yang memiliki angka stunting rendah dengan persentase dibawah Provinsi yaitu Kutai Barat, Kota Balikpapan, Mahakam Ulu dan Samarinda.

Sementara 6 Kabupaten/kota lainnya Kutai Timur, PPU, Kutai Kartanegara, Bontang, Berau dan Paser, memiliki persentase stunting berada di atas rata-rata Provinsi.

Mengingat Kaltim sudah ditetapkan menjadi lokasi Ibu Kota Negara, Soraya menganggap perlunya usaha peningkatan kapasitas masyarakat atau sumber daya manusia (SDM).

Baca juga: Irau Manutung Jukut, Jadi Ajang Promosi Gemar Ikan dan Cegah Stunting di Berau

"Tentunya dalam menghadapi persaingan dan tantangan agar dapat ikut serta dan berperan aktif dalam sektor-sektor pembangunan. Salah satunya melalui penurunanan angka stunting," ungkapnya.

Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) juga telah dibentuk dengan Keputusan Gubernur Nomor 463/K.159/2022 tentang Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Kalimantan Timur, pada tanggal 14 Maret 2022.

Ketatnya kompetisi dan perkembangan dunia yang semakin dinamis dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar dan jumlah penduduk usia anak yang cukup tinggi tentu butuh pengelolaan baik.

"Usaha dan aksi percepatan pencegahan stunting perlu dilakukan bersama-sama bukan hanya pemerintah, OPD lintas sektor, tapi juga lembaga non pemerintah serta masyarakat (stakeholder terkait)," tandas Soraya.

Data prevalensi Balita Stunting per Kabupaten/Kota se-Kaltim Tahun 2021 :

1. Kutim 27,50
2. Penajam Paser Utara 27,30
3. Kukar 26,40
4. Bontang 26,30
5. Berau 25,70 persen
6. Paser 23,60
7. Samarinda 21,60
8. Mahulu 20,30
9. Balikpapan 17,60
10. Kubar 15,80

Presentase stunting di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2021 sebesar 22,8 persen

SUMBER Data: SSGI Kementerian Kesehatan

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved