Video Viral
Rusia Dikeroyok, Ikuti Inggris, Jerman Beri Hadiah Senjata Super Canggih ke Ukraina
Rusia dikeroyok, ikuti Inggris, Jerman beri hadiah senjata super canggih ke Ukraina
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Sandrio
TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Jerman makin ‘ugal-ugalan’ memberikan bantuan senjata perang ke Ukraina.
Kali ini pemerintahan Olaf Scholz manyatakan telah mencairkan senjata senilai 3 miliar dolar AS atau Rp 44,5 triliun (kurs Rp 14.844/dolar AS).
Dilansir dari Tribunnews.com, bahkan salah satu senjata super modern yang disumbangkan ke pasukan Ukraina tersebut belum sempat dipakai oleh Angkatan Bersenjata Jerman itu sendiri.
Ini adalah bantuan tambahan yang menjadi dana terbesar yang digelontorkan untuk membantu tentara Volodymyr Zelensky memerangi Rusia.
Menteri Pertahanan Boris Pistorius kepada wartawan bahwa hadiah itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Jerman serius dalam mendukung Ukraina.
“Jerman akan memberikan semua bantuan yang bisa dilakukan, selama diperlukan,” janjinya.
Paket tersebut mencakup 30 tank Leopard 1 A5, 20 pengangkut personel lapis baja Marder, lebih dari 100 kendaraan tempur, 18 Howitzer self-propelled, 200 drone pengintai, empat sistem antipesawat IRIS-T SLM, dan amunisi.
Militer Jerman sendiri belum dilengkapi dengan sistem IRIS-T.
Baca juga: Pukul Mundur Serangan Balasan Ukraina di Bakhmut, 2 Komandan Tempur Rusia Gugur
Baca juga: Rudal dari Laut Rusia Serang Gudang Amunisi Ukraina, Senjata Bantuan Barat Hancur
Langkah Berlin dilakukan saat Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky diperkirakan akan berkunjung untuk pertama kalinya sejak permusuhan dimulai Februari 2022 lalu.
Jerman dilaporkan ingin membuat kesan yang baik setelah keengganan awalnya untuk bergabung dengan sesama anggota NATO dalam memasok militer Ukraina dengan senjata mematikan karena khawatir akan terseret ke dalam konflik yang mengacak-acak di Kiev.
Kunjungan Zelensky berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap status quo.
Sebuah jajak pendapat YouGov yang diterbitkan pada hari Jumat mengungkapkan lebih dari separuh orang Jerman menentang keanggotaan NATO untuk Ukraina, sementara 55 persen menginginkan Kiev dan Moskow untuk merundingkan kesepakatan damai sesegera mungkin.
Beberapa selebritas Jerman baru-baru ini berbicara kepada Kanselir Olaf Scholz dengan surat terbuka yang mendesak pemerintahnya untuk menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina dan malah mendorong gencatan senjata.
Sementara Jerman dan sekutu NATO-nya telah lama berjanji untuk mendukung Ukraina "selama diperlukan", sekretaris jenderal blok itu, Jens Stoltenberg, telah mengakui bahwa mereka kehabisan senjata dan amunisi untuk menunjukkan dukungan itu.
Pada bulan Oktober terungkap bahwa persediaan amunisi Jerman akan bertahan hanya untuk dua hari pertempuran, jauh di bawah ambang batas 30 hari yang secara teoritis diperlukan untuk negara-negara NATO, meskipun Berlin jauh dari sendirian dalam kehabisan tenaga.