Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Fatwa Politik dari Kopi Daeng

Tim sukses, lembaga polling atau konsultan politik atau apapun namanya asal berkaitan dengan pemilu adalah peluang mencari cuan yang cukup menjanjikan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Mathias Masan Ola
tribunkaltim.co
Ibnu Taufik Jr, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

HARUS diakui, sensasi Kopi Toraja racikan Warkop Mr Daeng Jalan Beler memang sanggup untuk menyandera mata agar tetap terjaga hingga pagi. Tak hanya itu, suasana proletar (demikian kami menyebutnya) di warkop tersebut juga menjadikan ngopi di Mr Daeng menjadi makin terasa hommy.

Malam itu, untuk kesekian kalinya, kami datang dan seperti biasa memesan Kopi Susu Toraja, singkong dan pisang goreng.

Lantaran sudah agak kemalaman, maka tak banyak pilihan meja kosong untuk bisa kami tempati.

Meja di sudut warung yang biasa kami pilih sudah diisi sejumlah remaja yang tampak asyik main game di ponsel mereka.

Baca Juga: Esek-esek Profesional Tak Tersentuh

Lagu 'Pelan-pelan Saja' -nya Kotak yang dinyanyikan di panggung sederhana yang hanya selisih dua-tiga meja langsung menghipnotis kami seolah menyatu dengan suasana proletarian di kafe ini. 

Entah sudah berapa lagu yang dilantunkan, kami tak ingat.

Begitu juga dengan kami yang sudah tak ingat lagi berapa tema cerita yang mengalir bersama canda tawa hingga tak terasa tiga-empat jam di warkop tersebut terasa baru sesaat.

Tiba-tiba sambil berbisik seorang kawan memaksa kami semua untuk mengarahkan pandangan pada satu meja tak jauh dari tempat kami duduk.

Dari gaya setelan mereka, kami jadi ingat dengan satu mobil yang terparkir di depan bergambar caleg berikut lambang partai.

Patut diduga sekaligus diyakini, dua meja bersisi sekira tujuh orang tak jauh dari kami adalah timses dari seorang caleg yang bakal berkontestasi di tahun politik 2024 mendatang.

Namanya juga omong kosong di warung kopi, kami langsung sok tahu menganalisa tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

Kesimpulannya, kami mencoba memahami kesulitan yang tengah dialami oleh calon yang tengah mereka 'perjuangkan.'

Baca Juga: Teori Motif dan Delik Pers

"Kalau timses, tak ada rumusnya tak sukses, yang namanya timses sudah pasti sukses."

"Bahkan kalau yang 'diperjuangkan' tidak suksespun, timses tetap saja sukses," seloroh seorang kawan membuka pembicaraan.

Ini adalah peluang menjelang tahun politik yang bakal semakin bergairah menjelang helatan pesta demokrasi tahun depan.

Tim sukses, lembaga polling atau konsultan politik atau apa pun namanya asal berkaitan dengan pemilu adalah peluang mencari cuan yang cukup menjanjikan.

"Termasuk buzzer juga peluangnya makin terbuka," seloroh seorang kawan menimpali diskusi kami.

Kita paham, tingkah polah politikus kita beberapa tahun terakhir meninggalkan karma yang membuat mereka menjadi tak gampang-gampang amat untuk bisa sukses meraup suara di kontestasi mendatang.

Perilaku korup, dan segala tingkah tak populis yang dipertontonkan tokoh-tokoh politik kita memberi pelajaran berharga bagi rakyat, pemilik kedaulatan sekaligus pemilik suara.

Pelajaran tersebut telah membuat pemilih kita menjadi lebih pragmatis, ada uang ada suara.

Bahkan frasa itu belum tuntas, saat semua bermain di ceruk yang sama, yaitu dengan uang, maka siapa yang memberi lebih banyak dan paling dekat dengan hari pencoblosan, maka di situlah arah pilihan akan ditentukan.

Tak berlebihan rasanya jika pemilih kita pada akhirnya mengambil hal yang paling sederhana, yaitu pragmatism.

Sebab, sudah terlalu bobrok benar perilaku politikus kita dan itu dipertontonkan secara terbuka.

Baca Juga: Jebakan Pasir di Simpang Rapak Balikpapan

Sayangnya dosa dan karma para politikus gaek kita juga harus ditelan oleh para politikus muda yang barangkali baru akan menjajal peruntungan di kontestasi kali ini.

Mereka harus ikut dengan ritme yang diciptakan oleh senior-senior mereka yang harus berhitung cakupan amunisi sehingga harus lebih berpikir soal isi tas dibanding harus pamer soal integritas.

Untuk sekadar ingin bertemu dengan calon pemilih di tingkat RT, mereka harus berhitung untuk memberikan beras dan uang saku untuk sekadar bertemu dengan warga yang belum tentu akan memilihnya.

Belum tuntas kami berdiskusi tentang para timses yang juga ikut larut dengan lagu-lagu yang dimainkan secara langsung di Kopi Daeng tersebut, kami tiba-tiba teringat dengan sat hal yang jauh lebih memprihatinkan dari pada demokrasi pragmatism yang bakal berlangsung di kontestasi tahun depan.

Sambil berulangkali memandang kasihan pada sosok calon legislator muda yang gambarnya menempel di kaus yang dikenakan tim suksesnya, kami kemudian berdiskusi soal bagaimana possisioning penyelenggara berikut perangkat yang lain dalam kontestasi ke depan.

Meski tidak pernah bisa dibuktikan, pertanyaan soal netralitas penyelenggara kita pada setiap kontestasi adalah pertanyaan yang selalu muncul dan lagi-lagi tak pernah terjawab.

Jika kita bicara di panitia lokal, maka pertanyaan tersebut sebenarnya sudah mengganggu pikiran kita sejak munculnya nama-nama yang bakal menjadi panitia seleksi penyelenggara pemilu di level bawah.

Baca Juga: Soal IKN, Pemerintah Pusat Tidak Boleh Egois

Rasa-rasanya, proses seleksi yang dilakukan tak ubahnya seperti melegitimasi sebuah proses basa-basi yang sebenarnya daftar nama siapa yang bakal menjadi penyelenggara sudah ada di kantong mereka yang punya kepentingan, yaitu partai politik.

Jika pikiran tersebut benar adanya, lalu gawe besar Pemilu 2024 mendatang yang konon disebut sebnagai pesta demokrasi itu apa?

Jika benar proses penentuan penyelenggara pemilu adalah legitimasi dari nama-nama pesanan dari penaguasa, maka bukankah itu juga sama bahwa Pemilu 2024 mendatang adalah legitimasi mempertahankan kekuasaan atas nama demokrasi?

Di Warkop Daeng Jalan Beler inilah pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa bangsa ini, tepatnya publik di bangsa ini tengah dilanda sikap skeptis lagi apatis tentang apa yang tengah terjadi di negeri ini.

Tidaklah berlebihan jika semua akan menjadi tak peduli pada ahirnya dan menjadi pasrah.

Publik hanya menunggu keajaiban tentang perubahan besar di negeri ini yang mampu menghentikan tingkah polah congak elit politik yang makin sulit dipisahkan dengan konglomerasi. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved