Horizzon

Fatwa Politik dari Kopi Daeng - 2

Kita dipertontonkan dengan saling sikut antara elite. Saling hujat,saling serang dan saling menelanjangi di antara mereka untuk alasan kekuasaan.

|
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Fransina Luhukay
Tribun Kaltim
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

MASIH sambil menikmati mantapnya Kopi Susu Toraja di ‘Warkop Proletar’ Mr Daeng di Jalan Beller Balikpapan, yang sekali lagi mampu memaksa mata terjaga hingga subuh, kali ini saya seolah ditampar lantaran berkutat pada kebodohan yang hakiki.

Gegara gabut sambil menunggu pesanan kopi dan singkong goreng andalan, dua jempol tangan saya berselancar di platform TikTok yang makin membius untuk dinikmati. Dan inilah yang membuat saya merasa benar-benar bodoh akut. Bagaimana tidak, di saat saya dan barangkali seluruh anak negeri ini masih asyik berdebat dan beretorika tentang demokrasi yang kita yakini, TikTok menunjukkan bagaimana dunia luar berlari begitu cepat.

Ketika kita masih berlomba menyusun narasi tentang kebenaran subjektif versi kita masing-masing, atau saat kita semakin sibuk dengan keculasan kita membunuh karakter lawan politik, TikTok menunjukkan bagaimana dunia bermetamorfosis menjawab tantangan peradaban.

Lebih menyakitkan lagi, masih di platform yang sama, yaitu TikTok yang awalnya kita mengenalnya sebagai platform yang hanya memamerkan goyang alay, kita bisa melihat platform ini juga bermetamorfosis menjadi platform multifungsi.

Baca juga: Fatwa Politik dari Kopi Daeng

Di TikTok, kita belanja dari mulai hoby, kebutuhan harian hingga celana dalam eceran. Melalui TikTok ini pula, kita merasa begitu tertinggal jauh dari peradaban yang sudah tak lagi sibuk mengurusi morat-maritnya demokrasi seperti yang dialami negeri kita.

Toko-toko online yang ada di TikTok mampu menjual barang-barang yang nyaris tak masuk akal murahnya. Dulu kita sanksi dan menganggap jual beli di TikTok atau platform online lainnya adalah tipu-tipu belaka.

Namun ternyata, alat-alat elektronik yang dulunya berbanderol mahal, TikTok menawarkan produk serupa dengan harga tak masuk akal murahnya. Di TikTok kita bisa beli obeng nirkabel hanya dengan harga puluhan ribu. Di platform ini, kita juga bisa mendapatkan sepatu atau pakaian branded dengan harga kaki lima. Tak terkecuali, di TikTok kita juga bisa beli eceran celana dalam sepuluhribuan.

TikTok membuat dunia makin sempit. Artinya, barang-barang produksi negara yang sudah beres demokrasinya membanjiri negeri kita yang masih menggandrungi demokrasi kasta terendah ini, dan menjadikan kita sebagai sasaran market belaka.

Intinya, boleh jadi kita tak lagi dijajah kompeni atau Jepang. Namun kenyataanya penetrasi pasar mereka mampu menjadikan negeri ini sebagai jajahan ekonomi dari negara-negara maju, baca: negeri yang demokrasinya sudah beres.

Ironisnya, masih di TikTok, kita juga dengan kasat mata melihat begitu terbelakangnya perilaku kita. Lantaran masih menggandrungi demokrasi kasta rendahan, menyaksikan masih saling hujat di antara kita. Kita dipertontonkan dengan saling sikut antara elite. Mereka saling hujat, saling serang dan saling menelanjangi di antara mereka untuk alasan kekuasaan.

Sementara banyak di antara kita yang sesungguhnya sudah tak percaya lagi dengan gelaran demokrasi lima tahunan bernama pemilu. Banyak di antara kita yang sudah apatis sekaligus skeptis dan tak peduli dengan pemilu yang tak lain hanya sebatas rutinitas basa-basi melegalisasi kekuasaan. Bukankah kita juga merasa bahwa penyelenggara negara ini, termasuk penyelenggara pemilu mulai dari pansel juga sudah dikondisikan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan?

Sambil mereka-reka rencana untuk memilih antara menggugat atau diam dan acuh tak acuh dengan peradaban demokrasi kita yang compang-camping, tiba-tiba khayalan ini menjadi berantakan begitu aroma singkong goreng tersaji di depan mata.

Dan kesimpulannya, singkong goreng plus harumnya Kopi Susu Toraja racikan Warkop Mr Daeng Jalan Beller jauh lebih asyik dinikmati daripada memikirkan nasib demokrasi kasta terendah yang diagungkan di negeri kita. Apalagi, singkong goreng dan Kopi Susu Toraja racikan Mr Daeng ini juga lebih eksklusif lantaran tidak dijual di platform TikTok. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved