Breaking News
Sabtu, 11 April 2026

Berita Kukar Terkini

Petani di Kukar Diusulkan Terima Asuransi Jika Gagal Panen Akibat Kemarau

Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara mengusulkan pemberian kompensasi berupa asuransi kepada petani.

Penulis: Miftah Aulia Anggraini | Editor: Aris
HO
ILUSTRASI- Kawasan pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. HO 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara mengusulkan pemberian kompensasi berupa asuransi kepada petani.

Asuransi tersebut akan diberikan apabila petani di Kutai Kartanegara gagal panen akibat musim kemarau yang tengah melanda Provinsi Kalimantan Timur.

Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi mulai bulan Agustus hingga Oktober, Benua Etam dilanda musim kemarau.

Hal ini dipicu karena fenomena el nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang datang bersamaan. Sehingga memungkinkan terjadinya gagal panen, sumber air baku mengering hingga kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga: Hati-hati, Jalan Poros Samboja-Loa Janan Jadi Titik Rawan Kecalakaan di Kukar

"Salah satu upaya kami adalah mensosialisasikan program asuransi usaha tani," kata Kepala Distanak Kutai Kartanegara, M Taufik, Minggu (13/8/2023).

Mengantisipasi fenomena ini, Distanak Kutai Kartanegara mulai melakukan monitoring dan pendataan.

Taufik mengungkapkan, sudah ada beberapa petani di desa-desa yang melapor ke pemerintah terkait musim kemarau. Beberapa petani bahkan sangat terdampak fenomena ini.

"Asuransi petani adalah hal yang bisa menjadi jawaban jika terjadi gagal panen, petani bisa diupayakan untuk mendapatkan kompensasi," jelas Taufik.

Mengingat tingginya manfaat asuransi yang merupakan program nasional ini, Distanak mulai melakukan pendataan ulang.

Baca juga: Duduk Perkara Perselisihan dr Richard Lee dan Tiktokers Farel Aditya, Padahal Sudah Dianggap Saudara

Pendataan ulang tersebut untuk mengetahui berapa banyak petani yang belum memiliki asuransi. Sembari mengimbau para petani untuk mempersiapkan kolam-kolam kecil sebagai sumber alternatif perairan.

Dengan perkiraan berlangsungnya musim kemarau ini hingga Oktober, Taufik memperkirakan akan ada seluas 18 ribu hektare lahan pertanian, khususnya padi yang terancam gagal panen.

Dikarenakan masa pertumbuhan yang tengah berlangsung. Taufik sendiri tidak menampik bahwa faktor alam ini akan mempengaruhi harga pangan di pasaran.

"Ini bisa menimbulkan inflasi. Untuk itu kita terus mendorong petani agar bisa melakukan statitiska sehingga bisa mengantisipasi kekeringan ini. Terutama di daerah pedalaman yang akan kesulitan pasokan pangan," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved