Berita Samarinda Terkini
Kondisi Cuaca Panas Ekstrem, Kasus Musibah Kebakaran di Samarinda Menurun
Meski tahun ini cuaca panas terbilang ekstrem, namun tingkat musibah kebakaran terus menurun di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur
Penulis: Rita Lavenia | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kasus kebakaran di Kota Samarinda, Kalimantan Timur bisa dibilang menurun meski mengalami musim kemarau panjang.
Meski tahun ini cuaca panas terbilang ekstrem, namun tingkat musibah kebakaran terus menurun di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur ini.
Hal itu terlihat dari data yang Tribunkaltim.co peroleh dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda.
Dalam data tersebut tercatat sejak 2020 kejadian musibah kebakaran menurun setiap tahunnya setelah terjadi 563 peristiwa amukan si jago merah pada 2019 silam.
Baca juga: Kisah Sedih Korban Kebakaran di Samarinda, Antar Anak Sekolah, Pulang Rumah Sudah Ludes
Berikut adalah rekapan data musibah kebakaran dalam empat tahun terakhir.
Memasuki 2020 mulai terjadi penurunan yakni 282 musibah kebakaran dengan total luas area terbakar 873.902 meter persegi.
Tercatat 286 Kepala Keluarga (KK) dengan 1.095 jiwa kehilagan tempat tinggal. 9 orang terluka dan 2 korban jiwa.
Adapun total kerugian keseluruhan adalah Rp 66.104.750.000.
Sepanjang 2021 tercatat 240 musibah kebakaran dengan total area terbakar 22.597 meter persegi.
291 KK dengan 824 jiwa kehilangan tempat tinggal dan 5 orang terluka serta kerugian mencapai Rp 49.295.750.000.
Lalu pada 2022 tercatat 227 musibah kebakaran dengan total area terbakar 43.018 meter persegi.
Tercatat 342 KK dengan 1.369 jiwa kehilangan tempat tinggal.
Pada tahun ini terdapat 8 korban jiwa dan 5 orang luka-luka. Kerugian mencapai Rp 79.505.500.000.
Lalu sejak Januari hingga November 2023 ini yang sudah masuk dalam pendataan telah terjadi 106 musibah kebakaran permukiman penduduk.
Tercatat area yang terbakar seluas 21.266 meter persegi.
Ada 120 KK dengan 517 jiwa kehilangan tempat bernaung dengan 1 korban jiwa dan 7 orang luka-luka serta jumlah seluruh kerugian yakni Rp 79.266.000.000.
Baca juga: 7 Kasus Selama Mei 2023, Disdamkar Petakan Area Rawan Kebakaran di Samarinda
Dari data tersebut jelas terlihat bahwa terjadi penurunan setidaknya 20 sampai 40 peristiwa setiap tahunnya.
Kepala Disdamkar Kota Samarinda Hendra AH mengatakan hal itu tidak terlepas dari tingkat kesadaran masyarakat yang semakin meningkat.
Terlebih dalam hal kesadaran akan pentingnya alat pemadam api ringan (APAR) di setiap rumah.
Apalagi saat ini melalui program Probebaya setiap RT telah mengalokasikan anggaran khusus untuk ketersediaan APAR dan sejumlah alat penanganan kebakaran awal di wilayah masing-masing.
"Jadi dari hasil pendataan kami, aware-nya (kesadaran) warga Samarinda akan pentingnya APAR meningkat sebanyak 25 persen," sebut Hendra AH senang saat dikonfirmasi Senin (13/11/2023).
Disinggung mengenai penyebab kebakaran dikatakannya masih didominasi oleh korsleting kistrik.
Sadar APAR sudah mulai meningkat. Tinggal kesadaran untuk terus melakukan peremajaan instalasi listrik.
"Terutama bangunan-bangunan lama," pesan Hendra AH, menutup pembicaraan dengan TribunKaltim.co.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20231113_Bencana-Kebakaran-di-Samarinda-Kaltim.jpg)