Jejak Islam di Bumi Etam
Jejak Islam di Bumi Etam 19 - Berawal dari Murid Sunan Giri
Penyebaran Islam di wilayah Paser, Kalimantan Timur dipercaya tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak.
Penulis: Ary Nindita Intan R S | Editor: Syaiful Syafar
Penyebaran Islam di wilayah Paser, Kalimantan Timur dipercaya tak lepas dari peran seorang ulama dari Kesultanan Demak yang dikenal dengan nama Abu Mansyuh. Beliau juga disebut sebgai murid Sunan Giri yang menikah dengan Petri Petong yang ketika itu memimpin Kerajaan Sadurengas.
TRIBUNAKLTIM.CO – Secara topografi wilayah, Kabupaten Paser terbagi menjadi dua wilayah, yakni bagian timur merupakan daerah dataran rendah landai hingga bergelombang, membentang panjang dari utara hingga selatan yang lebih melebar.
Di bagian selatan daerah Paser, terdiri dari rawa-rawa dan daerah aliran sungai dengan Jalan Negara Penajam-Kuaro-Kerang Dayo sebagai batas topografi.
Sementara bagian barat, merupakan daerah dataran yang bergelombang, berbukit dan bergunung sampai ke perbatasan Provinsi Kalimantan Selatan.
Adapun proses persebaran Islam di Kalimantan berlangsung secara efektif mulai sekitar abad 15 hingga 16 masehi.
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 18 - Aji Amir Hasanuddin, Ulama Besar Pemugar Masjid Sultan
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 17 - Orang Kepercayaan Sultan Dipilih jadi Arsitek Masjid
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 16 - Masjid Warisan Sultan Kutai untuk Syiar Islam
Perkembangan Islam di Kalimantan ini turut berdampak pada munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.
Menurut sejarawan Paser, Aji Jamil, Paser merupakan nama dari seseorang yang pertama kali membuka suatu tempat di wilayah Tana Paser ini.
Dalam artian, nama Paser bukan berasal beriringan dengan masa kerajaan.
Persebaran Islam di Kerajaan Paser tersiar melalui beberapa jalur. Di antaranya jalur perkawinan dan jalur perdagangan.
Mengutip dari beberapa sumber terkait penyebaran Islam di Paser, jauh sebelum mengenal agama, masyarakat Paser mengenal kepercayaan animisme.
Sebuah kepercayaan yang terikat dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh halus, kekuatan gaib, dan kekuatan sakti.
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 15 - Ubah Kampung Maksiat jadi Kampung Masjid
Senada demikian, menurut Jamil, kepercayaan animisme masih membalut masyarakat dalam zaman Kerajaan Sadurengas yang pada saat itu dalam masa pemerintahan Aji Rentik Manik Jalan Ngembang, atau yang lebih dikenal dengan Ratu Aji Petri Botung/Petong.
Meski pada waktu itu agama Islam sudah banyak dianut oleh masyarakat setempat, termasuk Petri Petong.
Kemudian untuk meneguhkan serta memperkuat kepercayaan agama Islam, jalur perkawinan dilakukan antara Petri Petong dan Indra Jaya yang bergelar Abu Mansyuh.
Abu Mansyuh merupakan salah seorang mubaligh, sekaligus murid dari Sunan Giri.
Jejak Islam di Bumi Etam
Sejarah Islam di Kalimantan Timur
Paser
Kalimantan Timur
Kerajaan Sadurengas
Kesultanan Demak
Abu Mansyuh
Petri Petong
Sunan Giri
Pasir Mayang
sejarah islam di paser
TribunKaltim.co
| Jejak Islam di Bumi Etam 26 Selesai - Batu Indra Giri, Penanda Hubungan Diplomatik Masuknya Islam |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 25 - Sosok Abu Mansyuh Indra Jaya, Pembawa Islam di Tana Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 24 - Al-Qur'an Tua Tulisan Tangan Jejak Penyebaran Islam di Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 23 - Masjid Jami Nurul Ibadah, Bukti Perkembangan Islam di Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 22 - Datu Bejambe, Leluhur Tokoh Penyebar Islam di Paser |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240329_Musemum-Sadurengas-peninggalan-Kesultanan-Paser.jpg)