Kamis, 21 Mei 2026

Penyebab Terjadinya Fenomena Tone Deaf Menurut Psikolog Siloam Hospitals Balikpapan

Tone deaf juga kerap diartikan sebagai penggambaran unik seseorang yang tidak peka atau tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya. 

Tayang:
Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Budi Susilo
HO/PEXELS
TONE DEAF - Ilustrasi seseorang alami Tone Deaf. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke atas. Bahkan seluruh lapisan masyarakat juga mengalami fenomena ini. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tone Deaf akhir-akhir ini sedang marak diperbincangkan di kalangan masyarakat. Diketahui, tone deaf juga kerap diartikan sebagai penggambaran unik seseorang yang tidak peka atau tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya. 

Psikolog Siloam Hospitals Balikpapan, Patria Rahmawaty .S.Psi., M.MPd, Psikolog mengatakan, rasa empati atau peka terhadap sesama manusia dan makhluk hidup di tengah masyarakat kini menurun. 

Menurut dia, fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke atas. Bahkan seluruh lapisan masyarakat juga mengalami fenomena ini.

"Sekarang banyak fenomena-fenomena pergeseran tentang etika di lingkungan sosial kita. Salah satunya perilaku tidak peka dan tidak peduli dengan kondisi sekitarnya," ungkapnya, Sabtu (7/9/2024).

Baca juga: 3 Langkah Pertolongan Pertama pada Korban Kekerasan Asusila di Kaltim ala Psikolog dari Balikpapan

Menurutnya, hal ini terjadi karena proses pembelajaran terkait kecerdasan emosional yang kurang baik dan tak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Biasanya karena proses belajar di lingkungan rumah yang juga kurang dalam pembentukan kecerdasan emosional yang baik. 

Sehingga dimanapun dia berada, pasti akan bersikap seperti itu. Karena sikap ini adalah bentuk keterampilan, dan harus dilatih sejak dini," ungkapnya. 

Selain itu, orang-orang yang kerap tak memperdulikan lingkungan sekitarnya juga berpotensi pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan.

Sehingga, membuatnya memutuskan untuk memilih tidak peduli dengan orang lain.

Terlebih, munculnya edukasi di sosial media yang mengarahkan masyarakat untuk tidak memperdulikan lingkungannya semakin marak. Dengan alasan takut tersakiti dan demi menyayangi diri sendiri. 

"Padahal, kita menjaga jarak dan membatasi ruang gerak, bukan berarti tidak peduli. Itu hanya untuk menjaga diri sendiri," katanya. 

Selain itu terdapat pula beberapa edukasi atau contoh di media sosial yang banyak menampilkan tentang kepedulian seseorang kemudian disalahgunakan. 

Baca juga: 6 Dampak Buruk dari Tindakan Kekerasan Asusila versi Psikolog Balikpapan

Hal ini juga semakin menambah potensi seseorang mengalami Tone Deaf.

Banyak juga contoh di media sosial yang mengatakan berhati-hati dengan kepedulian yang disalahgunakan. Ini membuat orang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

"Namun, sifat ini, tentu kembali ke karakter masing-masing individu masyarakat," pungkasnya. (ardiana kinan)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved