Berita Balikpapan Terkini

Terjadi 208 Kasus Kekerasan di Balikpapan hingga November 2024, Mayoritas Korban Anak Perempuan

Setidaknya hingga November 2024, telah terdata 208 kasus, meningkat dari 156 kasus pada tahun 2023 dan 82 kasus di tahun 2022

TribunKaltim.co/Mohammad Zein Rahmatullah
Ketua UPTD PPA Balikpapan, Esti Santi Pratiwi, saat memantik diskusi publik AJI dalam rangka Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2024, Selasa (10/12/2024). 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Balikpapan mencatat lonjakan dalam penanganan kasus kekerasan

Setidaknya hingga November 2024, telah terdata 208 kasus, meningkat dari 156 kasus pada tahun 2023 dan 82 kasus di tahun 2022.  

“Kasus ini didominasi oleh kekerasan terhadap anak perempuan, Jenis kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah kekerasan seksual, dengan persentase 56 persen,” ujar Kepala UPTD PPA Balikpapan, Esti Santi Pratiwi, dalam diskusi publik AJI dalam rangka Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2024, Selasa (10/12/2024). 

Baca juga: 10 Rekomendasi Tempat Makan Bakso yang Enak di Balikpapan, Harga Mulai dari Rp 15 Ribuan

Menurut data yang diungkapkan Esti, tren peningkatan kasus kekerasan telah berlangsung sejak 2019.

Pada 2019, tercatat 75 kasus, yang kemudian menurun 40 persen di 2020, mencapai 45 kasus.

Pada 2021, jumlah kasus naik lagi sebesar 60 persen menjadi 72 kasus.  

Namun, lonjakan paling tajam terjadi pada 2023, dengan peningkatan hingga 90,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Esti menilai, peningkatan tersebut bukan hanya menunjukkan realitas di lapangan, tetapi juga kemungkinan adanya keberhasilan sosialisasi dari pihak UPTD PPA.  

“Kami berpikir positif bahwa kenaikan ini mungkin mencerminkan keberhasilan kami dalam melakukan sosialisasi. Pada awalnya, masyarakat menganggap kekerasan sebagai aib yang tidak perlu dilaporkan, terutama jika pelakunya adalah orang terdekat,” jelas Esti.  

Esti menambahkan, sosialisasi yang intensif berpeluang berhasil mengubah paradigma masyarakat. 

Jika sebelumnya korban atau keluarganya cenderung menutupi kasus kekerasan, kini mereka lebih berani melapor.  

“Dulu, ada banyak kasus di mana korban enggan melapor karena takut dampaknya. Misalnya, jika suaminya dipenjara, siapa yang akan menafkahi keluarga? Beberapa orang bahkan mengirim anaknya ke pesantren sebagai cara menyelesaikan masalah,” ungkapnya.  

Esti juga mengapresiasi keberanian masyarakat yang kini lebih aktif melaporkan kasus.

“Tapi mungkin juga ini adalah wajah Balikpapan yang sesungguhnya, di mana kasus kekerasan memang meningkat. Biasanya, kekerasan seperti fenomena gunung es; yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari yang sebenarnya terjadi,” tambahnya.  

Meski banyak yang mengaitkan peningkatan kasus dengan kehadiran Ibu Kota Negara (IKN) dan meningkatnya jumlah pendatang, Esti menegaskan bahwa pelaku kekerasan tetap didominasi oleh orang terdekat korban.  

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved