Kamis, 21 Mei 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 28 - Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati

Di antara mereka mungkin ada yang memang betul-betul sufi sejati (shufi) dan ada juga yang mengaku-ngaku sufi atau sufi palsu (mutashawwif).

Tayang:
Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUN KALTIM
TULISAN MENTERI AGAMA - Foto koran digital Tribun Kaltim yang memuat tulisan Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar edisi Jumat (28/3/2025). Tribun Kaltim melalui rubrik Cahaya Ramadhan memuat tulisan berseri dari Menteri Agama selama bulan puasa tahun ini. (DOK TRIBUN KALTIM) 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

KAJIAN tasawuf kini sedang trend. Tiba-tiba muncul banyak orang mengaku sufi dengan konotasi bermacam-macam.

Di antara mereka mungkin ada yang memang betul-betul sufi sejati (shufi) dan ada juga yang mengaku-ngaku sufi atau sufi palsu (mutashawwif).

Sufi sejati telah melalui perjuangan dan perjalanan spiritual panjang secara sistematis (mujahadah). Sedangkan sufi palsu tidak pernah melalui perjalanan panjang dan berjuang keras untuk melewati tahapan (maqam). 

Antara sufi sejati dan sufi palsu sulit dibedakan oleh orang awam.

Kadang-kadang sufi sejati dianggap sufi palsu atau bukan sufi, karena penampilan fisik dan lahiriah tidak sesuai espektasinya.

Misalnya seseorang membayangkan sosok sufi menggunakan pakaian kebesaran khusus, didampingi para pengawal (mursyid), memiliki tarekat dan pengikut yang mamadai besar, dan muru’ah-nya tinggi.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 27 - Dari Wirid ke Warid

Sufi palsu terampil membaca ekspektasi jemaah.

Apa yang diharapkan jemaah dipenuhi dan yang tidak diinginkan jemaah disembunyikan sedemikian rupa. 

Tanda-tanda sederhana sufi sejati biasanya tidak pernah mau memperkebalkan diri sebagai sufi, tidak mau mendeklarasikan ajarannya, tidak mau terpengaruh dengan materi, bahkan cenderung menghindari popularitas dan orang banyak.

Dia lebih banyak beramal dan bermujahadah ketimbang banyak berbicara dan berceramah di mana-mana.

Dia tidak terlalu suka diundang ke mana-mana tetapi lebih senang tinggal menetap di tempat atau padepokannya bersama santri atau muridnya.

Dia berhati-hati bicara dan memberikan pengajaran kepada orang yang baru dikenalnya, tetapi murid-murid lama dan yang dikenalnya proaktif untuk membimbing, mendoakan, dan mengajarnya.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 26 - Dari Taabbud ke Istianah

Sedangkan tanda-tanda sederhana sufi palsu ialah suka mengangkat diri sebagai pemimpin atau tokoh spiritual, suka mengumbar janji keberhasilan kepada jemaah dengan doa dan wirid, sering mencela ustaz atau tokoh spiritual lainnya, muru’ah-nya kurang, mencintai pujian dan popularitas, tidak bisa menyembunyikan kecintaannya terhadap materi dan dunia, bahkan hidupnya tergantung pada jemaahnya, gampang tersinggung dan marah.

Dia juga cenderung membeda-bedakan kelas sosial-ekonomi jemaahnya, lebih respek dan lebih mudah memberikan pelayanan terhadap kelas masyarakat atas dan cenderung menyepelekan jemaah yang tidak berkelas.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved