Jumat, 10 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 23 - Dari Self-Love ke Selfishness

Kata cinta di dalam bahasa Arab bertingkat-tingkat hingga 14 macam jenis cinta. Dalam bahasa Inggris lumayan lebih banyak kosakatanya

Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

KATA cinta di dalam bahasa Arab bertingkat-tingkat hingga 14 macam jenis cinta.

Dalam bahasa Inggris lumayan lebih banyak kosakatanya daripada bahasa Indonesia tentang cinta.

Self-love ketika seseorang mencintai orang lain dan karena itu dia mencintai dirinya sendiri.

Self-love biasa juga disebut dengan saint-love atau unconditional love karena cintanya betul-betul tanpa pamrih.

Bagaimana seorang ibu mencintai dan menyayangi bayinya, maka dia juga harus menyayangi dirinya, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya agar anaknya bisa memperoleh air susu segar dari dirinya.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 22 - Dari Rahman ke Rahim

Seseorang dapat menjadi pencinta sejati jika dia dapat memberi cinta yang tulus kepada orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, atau mencintai orang lain karena dia mencintai dirinya.

Bahkan self-love melintasi batas kemanusiaan karena ternyata limpahan cintanya juga merembes ke seluruh makhluk lain.

Erich Fromm ketika membahas kualitas self-love mengungkap sebuah pernyataan: "Cinta kepada diri saya tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada semua makhluk hidup."

Sedangkan selfishness ketika seseorang hanya tertarik kepada dirinya sendiri, tidak peduli kepada orang lain, dan mengingkari segala sesuatu untuk dirinya sendiri.

Dia tidak merasa senang kalau memberi dan hanya senang dalam mengambil.

Sekalipun secara materil sudah hidup berkecukupan atau sudah di atas standar rata-rata kehidupan di sekitarnya tetapi masih merasa belum cukup, karena itu dia selalu berharap dan meminta kepada orang lain.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 21 - Dari Takut ke Taqwa

Orang ini sesungguhnya bukan hanya tidak dapat mencintai orang lain, melainkan juga tidak bisa mencintai dirinya sendiri.

Dia sebenarnya membenci dirinya sendiri yang terus menerus meminta tanpa pernah dipuaskan, tetapi sulit menjelaskan mengapa itu terjadi pada dirinya sendiri.

Karena itu, Erich Fromm menyebut orang ini menderita semacam gangguan psikologis dalam bentuk ketidak sanggupan untuk mencintai.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved