Selasa, 2 Juni 2026

Tribun Kaltim Hari Ini

Banjir Kepung Wilayah Kaltim, Genangan Air Rendam Samarinda, Kukar hingga Bontang

Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di Samarinda, Kukar hingga Bontang. Tidak hanya banjir, hujan deras ini juga memicu longsor.

Tayang:
Penulis: Geafry Necolsen | Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO
BANJIR DI KALTIM - Warga melintasi jalan Sentosa Gang  Kenangan  RT 73 Kelurahan Sungai Pinang Dalam Kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda Kalimantan Timur ketika direndam banjir arus deras setinggi lutut orang dewasa, Senin (12/5/2025). Warga berharap penanganan banjir diantaranya pelebaran drainase diwujudkan demi mencegah banjir.(TRIBUNKALTIM CO/Nevrianto Hardi Prasetyo) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Samarinda sejak dini hari hingga siang hari pada Senin (12/5), menyebabkan bencana alam di sejumlah titik.

Tak hanya banjir, hujan deras yang berlangsung sejak pukul 04.00 hingga 12.00 WITA ini juga memicu terjadinya tanah longsor

Salah satu titik terdampak adalah area lereng inlet tunnel Samarinda yang terletak di Jalan Sultan Alimuddin. Longsoran terjadi di sisi kanan lereng portal terowongan sekitar pukul 09.17 WITA.

Kondisi ini mengubah wajah kawasan inlet yang sebelumnya tampak stabil tanpa tanda-tanda pergerakan tanah hingga tanggal 11 Mei.

Baca juga: Banjir Kepung Samarinda, Warga Dengar Gemuruh Seperti Petir, Ibu-Anak Tertimbun Longsor di Lempake

Bahkan monitoring lereng yang dilakukan hingga sehari sebelumnya menunjukkan tidak ada gejala kerusakan. Namun, hujan lebat yang turun secara terus-menerus akhirnya memicu terjadinya rontokan besar dari lereng tersebut.

Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti, menyampaikan bahwa insiden ini hanya terjadi pada satu titik dan tidak berdampak pada area lain di sekitar tunnel.

“Pada lokasi ini, terjadi pergerakan lereng di area sisi kanan portal terowongan. Untuk area lain, baik itu di dalam terowongan ataupun di lereng sisi outlet (Jalan Kakap) tidak terjadi pergerakan apapun dan dinyatakan aman,” jelas Desy.

Ia menambahkan, sejak Februari 2025, tim teknis telah melakukan investigasi geologi di lokasi tersebut. 

Hasil investigasi menunjukkan adanya timbunan material longsoran masa lampau atau talus deposit yang berada di luar Right of Way (ROW) dan berpotensi memicu pergerakan tanah.

“Saat ini, sudah dilakukan investigasi terhadap kondisi geologi pada lereng sejak Bulan Februari dan disimpulkan bahwa pada sekitar area tersebut (di luar ROW) terdapat area talus deposit atau longsoran masa lampau yang dapat memicu pergerakan lereng.

Hasil investigasi kondisi geologi tersebut telah dilakukan diskusi bersama dengan Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS). Sampai dengan saat ini sedang dilakukan perancangan desain penanganan lereng untuk menangani potensi kejadian serupa,” terang Desy.

Investigasi geoteknik dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 16–18 Februari 2025 dengan hasil temuan berupa talus deposit dan kemiringan batuan yang menjadi arah kendali potensi runtuhan.

Tahap kedua dilakukan pada 18 April–3 Mei 2025 dengan cakupan area lebih luas dan dilengkapi uji test pit untuk memastikan kedalaman serta sebaran material longsoran.

Menurut Desy, adapun penyebab utama kejadian ini diduga kuat berasal dari dua faktor, yaitu intensitas hujan lebat dengan frekuensi tinggi dan keberadaan talus deposit di bagian atas lereng.

Sebagai tindak lanjut, Dinas PUPR bersama tim teknis telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan seperti melakukan SWA (Stop Work Authority) dan menutup area longsoran menggunakan terpal, sembari menunggu lereng stabil. Setelah itu, akan dilakukan pembersihan material longsor.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved