Liga Italia

Allegri Kembali ke AC Milan: Pilihan Tepat atau Makin Memperburuk Rossoneri? Ini Analisanya

Dalam upaya menebus musim yang mengecewakan, AC Milan bergerak cepat dengan mengumumkan kembalinya Massimiliano Allegri sebagai pelatih kepala

acmilan.com
UPDATE AC MILAN - Welcome Massimiliano Allegri, diunggah di laman resmi klub, Jumat (30/5/2025). Dalam upaya menebus musim yang mengecewakan, AC Milan bergerak cepat dengan mengumumkan kembalinya Massimiliano Allegri sebagai pelatih kepala, menandai periode keduanya bersama Rossoneri. (acmilan.com) 

TRIBUNKALTIM.CO - Dalam upaya menebus musim yang mengecewakan, AC Milan bergerak cepat dengan mengumumkan kembalinya Massimiliano Allegri sebagai pelatih kepala, menandai periode keduanya bersama Rossoneri.

Allegri menjadi pelatih keempat yang duduk di bangku AC Milan hanya dalam kurun 12 bulan terakhir, mencerminkan ketidakstabilan manajerial yang ironis bagi klub yang menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian finansial dan keberlanjutan.

Ini tentu bukan “perputaran” yang dibayangkan oleh manajemen AC Milan yang dipimpin Giorgio Furlani.

Namun, penunjukan Allegri justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.

Baca juga: Update Transfer Liga Italia, AC Milan Punya Kans Datangkan Dusan Vlahovic

Baca juga: Daftar Klub Liga Italia yang Punya Pelatih Baru: Chivu ke Inter Milan, Lazio hingga AC Milan CLBK

Pelatih yang akan menginjak usia 58 tahun itu kini kembali ke AC Milan yang jauh berbeda dari skuat yang ia bawa meraih Scudetto pada 2010–11.

Saat itu, AC Milan diperkuat bek-bek elite dan Zlatan Ibrahimovic dalam masa kejayaannya.

Kini, AC Milan memiliki skuad yang penuh lubang. terutama di lini belakang dan serangan, yang menjadi tantangan langsung bagi Allegri, pelatih yang dikenal dengan filosofi kedisiplinan, soliditas pertahanan, dan kerja keras para penyerangnya.

Pragmatis di Atas Estetika

Allegri dikenal sebagai seorang pragmatis.

Ia bukan penganut paham taktik tertentu, melainkan lebih mengedepankan struktur, keseimbangan, dan efisiensi.

Ia membangun tim dari lini belakang yang kokoh, lini tengah yang rapat, dan mengandalkan kecemerlangan individu untuk menciptakan peluang, bukan lewat skema yang rumit.

Ironisnya, AC Milan justru tengah dalam proses melepas salah satu playmaker terbaik mereka, Tijjani Reijnders, dan sejauh ini belum ada pengganti sepadan yang muncul dalam rumor maupun berita resmi.

Baca juga: Bursa Transfer Liga Italia: Kim Min Jae Menuju AC Milan, Bayern Munchen Ingin Lepas Permanen

Mengharapkan Allegri menambal kekosongan ini dengan sihir taktik tampaknya berlebihan, gaya Allegri bukanlah untuk mencipta dari ketiadaan.

Kabarnya, Allegri dijanjikan bonus jika berhasil finis di empat besar.

Mengingat AC Milan hanya bermain sekali seminggu musim depan, tanpa kompetisi Eropa, target tersebut terdengar terlalu sederhana, bahkan terkesan pesimis.

Untuk klub sebesar AC Milan, dengan kalender yang longgar, tidak mengincar gelar juara justru merupakan kegagalan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved