Berita Kaltim Terkini
Kisah Konservasi Mangrove di Kampung Karangan Berau Kaltim, Ancaman Perusakan dan Perut Lapar
Warga di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur sangat termotivasi melindungi dan melestarikan kawasan mangrovenya.
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Amalia Husnul A
Warga di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur sangat termotivasi melindungi dan melestarikan kawasan mangrovenya. Bukan tanpa sebab. Ancaman perusakan lingkungan yang nyata terlihat di depan mata, membuat warga cemas akan masa depan mata pencaharian mereka.
TRIBUNKALTIM.CO - Tidak mudah hidup di kampung yang luas wilayahnya didominasi hutan mangrove. Selain aspek lingkungan, ini juga terkait soal urusan perut. Keduanya mesti berjalan beriringan. Setidaknya itulah yang dirasakan warga Kampung Karangan.
Dengan jumlah penduduk sekira lebih 600 jiwa (200 KK), mata pencaharian warga Karangan sebagian besar adalah nelayan. Sisanya ada yang bekerja di kebun dan bertani.
Kampung Karangan juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil terasi terbesar di Kabupaten Berau.
Mereka sadar betul betapa mangrove sebagai habitat udang, ikan, kepiting, dan biota laut lainnya yang notabene merupakan bahan baku pembuatan terasi, perlu dijaga.
Bayangkan kalau mangrove itu rusak, maka urusan perut mereka juga bisa terganggu.
Itu menjadi salah satu alasan, sehingga lahirlah Peraturan Kampung Karangan Nomor 3 Tahun 2024 tentang Pengelolaan, Pemanfaatan, dan Pemberdayaan Ekosistem Mangrove.
Ancaman Pukat Harimau dan Tambang
Zubair Azis, Ketua Pengurus Kawasan Konservasi Mangrove Karangan, menceritakan spirit lahirnya peraturan tersebut.
Menurutnya, selama puluhan tahun lahir dan besar di wilayah itu, ia tidak pernah melihat ada nelayan Karangan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti jenis pukat harimau.
Namun, belakangan mereka terusik dengan maraknya aktivitas nelayan luar yang memakai alat tangkap jenis itu.
"Mangrove kami sebenarnya baik-baik saja, sampai terjadi ketidakseimbangan antara yang diambil dan yang tumbuh. Itu karena ekspansi warga luar yang mengeksploitasi sumber alam kami, termasuk menangkap ikan dengan cara-cara brutal," tuturnya kepada TribunKaltim.co, Sabtu (14/6/2025) malam.
Baca juga: Keanekaragaman Hayati Teluk Balikpapan Terdampak Proyek IKN Kaltim, Luasan Wilayah Mangrove Susut
Tidak hanya itu, mangrove di Karangan juga terancam dengan aktivitas tambang.
Beberapa bulan lalu, warga mendapati kegiatan eksplorasi di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang berbatasan dengan daerah mereka. Kawasan karst ini memang membentang dari Kabupaten Berau hingga Kabupaten Kutai Timur di Kalimantan Timur.
"Mereka sudah pengambilan sampling sekitar enam bulan lalu. Isu ini kemudian disuarakan masyarakat. Kesepakatannya akhirnya mereka ditolak dan sekarang sudah angkat kaki dari lokasi itu," terang Zubair.
Patroli Pakai Speedboat
Mewujudkan konservasi mangrove, kata Zubair, bukan soal mudah.
mangrove
konservasi
Kampung Karangan
Berau
Kalimantan Timur
Yayasan Konservasi Alam Nusantara
kaltim.tribunnews.com
| Dispora Kaltim Percepat Pencairan Hibah KONI Kaltim untuk Antisipasi Terganggunya Pembinaan Olahraga |
|
|---|
| Harga LPG Non-subsidi di Kaltim Naik, Pertamina Pastikan Penyesuaian Sesuai Kondisi Pasar |
|
|---|
| Rapper Wanita Asal Paser Sukses Rilis Karya dari Panggung ke Panggung |
|
|---|
| Ancaman El Nino di Kaltim, BWS Minta PDAM Kurangi Pengambil Air Waduk dan Siapkan 44 Sumur Bor |
|
|---|
| Dana Hibah Telat Cair, KONI Kaltim Geser Jadwal Agenda, Musorprov Mundur Juni 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250615_Konservasi-Mangrove-di-Kampung-Karangan-Berau-Kaltim.jpg)