Breaking News
Rabu, 15 April 2026

Berita Nasional Terkini

Malam 1 Suro 2025: Jadwal, Doa dan 7 Amalan yang Perlu Diketahui

Malam 1 Suro 2025 menjadi salah satu momen penting yang sangat dianjurkan untuk dirayakan dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam.

Editor: Yara Tahnia
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
MALAM 1 SURO - Tradisi Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (4/11/2013) dini hari. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag), tanggal 1 Suro 2025 bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H, yang jatuh pada hari Jumat, 27 Juni 2025. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO) 

TRIBUNKALTIM.CO - Malam 1 Suro 2025 menjadi salah satu momen penting yang sangat dianjurkan untuk dirayakan dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag), tanggal 1 Suro 2025 bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H, yang jatuh pada hari Jumat, 27 Juni 2025.

Artinya, malam 1 Suro dimulai pada Kamis malam, 26 Juni 2025.

Di masyarakat Jawa, malam ini dianggap sakral dan biasanya diperingati dengan berbagai tradisi leluhur.

Sedangkan bagi umat Islam, malam tersebut menjadi waktu istimewa untuk menyambut awal tahun Hijriah dengan berbagai amalan spiritual.

Baca juga: Sambut Malam 1 Suro 2025 pada 26 Juni: Ini Tradisi, Filosofi dan Pantangan yang Perlu Diketahui

Apa saja amalan yang disarankan pada malam 1 Suro 2025?

Berikut ini adalah 7 amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada malam 1 Suro atau malam 1 Muharram 1447 H, sebagaimana dikutip dari situs resmi Baznas:

1. Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun

Amalan utama yang disarankan adalah membaca doa penutup tahun pada akhir bulan Dzulhijjah (sebelum Maghrib) dan doa pembuka tahun setelah Maghrib pada malam 1 Muharram.

Contoh doa yang dibaca:

Doa Akhir Tahun: Memohon ampunan atas kesalahan di tahun sebelumnya.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Latin:

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.

Artinya:

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved