Berita Samarinda Terkini
Singel Fantasi Adiksi, Evolve asal Samarinda Ingin Satukan Musik Modern dan Akar Tradisi Kalimantan
Evolve, band asal Samarinda yang mengusung genre yang mereka sebut ‘Alternatif Tradisi’, baru saja merilis single perdana bertajuk ‘Fantasi Adiksi’
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA — Di tengah dinamika pertumbuhan skena musik lokal Kalimantan Timur, sebuah suara baru muncul dengan warna yang tak biasa.
Evolve, band asal Samarinda yang mengusung genre yang mereka sebut ‘Alternatif Tradisi’, baru saja merilis single perdana bertajuk ‘Fantasi Adiksi’.
Lagu ini bukan sekadar debut, melainkan bentuk eksplorasi musikal yang jujur, berani, dan sarat refleksi terhadap realitas relasi manusia hari ini yang dibalut dalam bunyi-bunyi distorsi yang berpadu dengan sampeq dan gambus.
Menurut Deni Junaeli sang bassis, ide awal lahirnya lagu ini muncul dari obrolan santai antar anggota band setelah sesi latihan malam hari di Samarinda.
Saat itu, salah satu personel membagikan kisah tentang seseorang yang terjebak dalam hubungan penuh manipulasi, namun justru merasa tidak bisa lepas karena ‘fantasi’ cinta yang diciptakannya sendiri.
“Dari situlah muncul istilah ‘Fantasi Adiksi’, sebuah kontradiksi yang menggambarkan ketertarikan terhadap sesuatu yang justru menyakitkan,” ujar Deni.
Baca juga: Panggung Bhayangkara Memanas! Ndarboy Genk Tutup Puncak dengan Musik Koplo Meriahkan Balikpapan
Menanggapi cerita tersebut, Ayit Abdillah, sang gitaris, melihat bahwa atmosfer narasi itu cocok dipadukan dengan suara garang penuh distorsi.
Ia pun mengusulkan pendekatan sonik yang jarang ditempuh—menggabungkan instrumen tradisional Kalimantan Timur dengan gaya modern alternatif. Sebuah kombinasi yang menjadi fondasi sonik bagi karya ini.
Lebih dari sekadar kisah personal, Fantasi Adiksi menyentuh ranah sosial dan eksistensial. Boyonesia menjelaskan bahwa lagu ini menggambarkan bagaimana manusia sering menciptakan dunia khayalan untuk menghindari kenyataan pahit, namun justru menjadi candu terhadapnya.
Boyonesia sang pemain sape dan suling mengatakan, lagu ini secara simbolik menyoroti dinamika hubungan yang tidak seimbang, obsesi terhadap validasi sosial, dan ketergantungan terhadap sesuatu yang hanya terlihat indah di permukaan, tetapi sesungguhnya menyiksa dari dalam.
“Bagi kami, lagu ini adalah kritik sekaligus refleksi terhadap realita hari ini, di mana batas antara kenyataan dan ilusi semakin kabur. terutama di era digital, media sosial, dan pencarian eksistensi yang kadang kehilangan esensi,” terang Boyonesia.
Namun menurutnya, lagu ini bukan hanya kritik. Ini juga ajakan untuk jujur pada diri sendiri, bahwa tidak semua yang tampak indah layak untuk dipertahankan, terutama jika itu menghancurkan diri secara perlahan.
Dalam proses penciptaannya, semua personel terlibat aktif. Prinsip keterbukaan dan kerja kolektif menjadi kunci utama dalam merangkai ruang rasa dan cerita dalam lagu ini.
“Kami bekerja secara kolaboratif, dengan masing-masing personel mengambil peran yang sesuai dengan karakter musikal dan kekuatan personal mereka,” jelasnya.
Eksperimen bukan tanpa tantangan. Deni mengungkapkan bahwa menyatukan bunyi sampeq dan gambus dengan instrumen elektrik bukan perkara mudah.
| WFH di Samarinda Hemat hingga Rp 70 Juta, Dishub: Pegawai Wajib tak Bawa Kendaraan BBM Setiap Jumat |
|
|---|
| Tim Irjen Kemendagri ke Kaltim, Momentum Evaluasi Terhadap Kinerja Perangkat Daerah |
|
|---|
| Kondisi Terkini Pasokan Air PDAM Samarinda di Tengah Ancaman Kemarau Panjang |
|
|---|
| Antisipasi Kemarau, PDAM Samarinda Minta Warga Bijak Pakai Air |
|
|---|
| Prof Khojir jadi Guru Besar UINSI Samarinda ke 17, Pesantren jadi Laboratorium Multikulturalisme |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250707-Evolve-band-asal-Samarinda.jpg)