Sabtu, 25 April 2026

Berita Balikpapan Terkini

Inflasi di PPU Capai 1,84 Persen pada Januari hingga Juni 2025, Dipicu Tomat hingga Kacang Panjang

Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami inflasi sebesar 1,84 persen (ytd) pada Januari hingga Juni 2025

Penulis: Ardiana | Editor: Nur Pratama
TribunKaltim.co/Ardiana Kinan
INFLASI DI PPU - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami inflasi sebesar 1,84 persen (ytd) pada Januari hingga Juni 2025. (TribunKaltim.co/Ardiana Kinan) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami inflasi sebesar 1,84 persen (ytd) pada Januari hingga Juni 2025. 

Sementara itu, Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten PPU tercatat mengalami inflasi sebesar 1,26 persen (yoy).

Angka ini lebih rendah dibandingkan secara nasional yang tercatat sebesar 1,87 persen (yoy). 

"Juga lebih rendah dibanding inflasi gabungan 4 Kota di Provinsi Kalimantan Timur yang tercatat sebesar 1,62 persen (yoy)," ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, Selasa (8/7/2025).

Baca juga: Belum Lolos SPMB? Pemkot Balikpapan Buka Jalur Reguler dan Gratiskan 13 Sekolah Swasta

Robi membeberkan, terdapat lima komoditas yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kabupaten PPU. Diantaranya, tomat, beras, bawang merah, sigaret kretek tangan (SKT), hingga kacang panjang. 

Peningkatan harga tomat, lanjutnya, disebabkan oleh penurunan produksi dan meningkatnya biaya produksi akibat musim hujan yang masih terus berlangsung.

Sementara itu, kenaikan harga beras disebabkan oleh pasokan yang terbatas, di tengah permintaan yang cenderung tetap.

"Kenaikan harga bawang merah juga  disebabkan oleh terbatasnya produksi akibat curah hujan yang tinggi di daerah sentra produksi," tambahnya. 

Peningkatan harga SKT juga memicu inflasi dengan disebabkan oleh beberapa distributor dan toko lokal yang tetap mempertahankan margin dengan menaikkan harga jual. 

Sementara itu, kenaikan harga kacang panjang disebabkan pasokan yang terbatas dan produksi yang menurun. 

"Juga dikarenakan masih terus berlanjutnya musim hujan, yang juga mendorong meningkatnya biaya usaha tani," ungkapnya. 

Di sisi lain, pada Juni 2025, Kabupaten PPU juga mengalami deflasi sebesar 0,22 persen (mtm). Terutama bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. 

Tak hanya pemicu inflasi, terdapat 5 komoditas penyumbang deflasi di PPU. Mulai dari daging ayam ras, ikan tongkol, ikan kembung, jeruk, hingga sawi hijau. 

Robi melanjutkan, daging ayam ras mengalami penurunan harga karena pasokan yang cukup dan distribusi lancar, seiring dengan masuknya pasokan ayam beku dari Jawa dan permintaan yang menurun pasca Hari Raya Idul Adha. 

Di samping itu, penurunan harga ikan tongkol dan ikan kembung juga terjadi dan memicu deflasi. 

Dengan didukung oleh meningkatnya hasil tangkapan untuk kedua komoditas ikan tersebut. Sejalan dengan mulai masuknya periode ikan plagis (termasuk ikan layang dan ikan tongkol), di tengah permintaan yang cenderung tetap.

"Sementara itu, penurunan harga jeruk dan sawi hijau didukung oleh kelancaran pasokan dan distribusi sehingga mendukung kecukupan stok," pungkasnya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved