Berita Samarinda Terkini
Camat Samarinda Seberang Ungkap Penyebab Tanah Terus Bergerak di Perumahan Kledang Mas
Rencana relokasi terdampak longsor di Perumahan Kledang Mas, Samarinda, Kalimantan Timur belum lama ini kembali dibahas
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA — Rencana relokasi terdampak longsor di Perumahan Kledang Mas, Samarinda, Kalimantan Timur belum lama ini kembali dibahas.
Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi, menegaskan bahwa penanganan kasus ini memerlukan pendekatan berbeda, karena karakteristik longsornya yang terjadi di bawah permukaan tanah, bukan di permukaan seperti kebanyakan bencana serupa.
“Longsor di Kledang Mas ini sudah menjadi PR bagi kami selama dua tahun sejak kejadian pertama pada Mei 2023. Bedanya, longsor di atas permukaan bisa diselesaikan dengan pengerukan hexa dozer. Tapi kalau di bawah permukaan, metode analisa dan penyelesaiannya jauh lebih rumit,” ujar Aditya, Sabtu (9/8/2025).
Ia menjelaskan, pihaknya telah meminta pemilik lahan selaku pengembang perumahan untuk meratakan perbukitan di sekitar lokasi.
Baca juga: Kawasan Perumahan Kledang Mas Samarinda Seberang Jadi Spot Favorit Olahraga dan Kuliner
Bukit tersebut, menurut analisis kajian tim Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), menjadi beban berat bagi tanah di sekitarnya karena titik jenuhnya sudah maksimal.
“Kalau tidak dipangkas, beban itu akan turun dan membuat gelombang tanah di sekitarnya semakin besar,” tegasnya.
Namun, ia mengakui bahwa faktor kalkulasi usaha dan birokrasi internal pengembang membuat pemangkasan tidak optimal.
Akibatnya, pergerakan tanah terus terjadi hingga BPBD mengeluarkan rekomendasi relokasi warga pada Januari lalu.
Aspirasi warga pun mengemuka, terutama terkait bantuan lokasi relokasi.
“Sejak Januari, kami langsung mengakses koordinasi bersama DPRD Kota Samarinda, Disperkim, dan BPBD, untuk berkolaborasi dengan pengembang mencari lahan alternatif di sekitar perumahan,” jelasnya.
Setelah enam bulan komunikasi, kini telah ada lahan yang secara informal disepakati, terletak di sisi barat perumahan.
Namun demikian, lokasi tersebut terpisah dari site plan perumahan, sehingga dibutuhkan alternatif akses jalan yang saat ini masih dibicarakan.
Disperkim menargetkan kejelasan relokasi sebelum Agustus berakhir, dengan pembangunan rumah direncanakan tahun depan.
Aditya menguraikan, berdasarkan analisa tim Geologi UMKT, tanah di kawasan tersebut sudah mencapai titik jenuh maksimal.
Tanpa pemangkasan atau rekayasa teknis, beban tanah akan terus meningkat, mendorong gelombang tanah di sekitarnya naik.
| Pemkot Samarinda Uji Sistem WFH ASN, Dikembangkan Cepat dalam 2 Minggu |
|
|---|
| Tutup Celah Pelanggaran WFH, Walikota Samarinda Ajak Masyarakat Turut Awasi Disiplin ASN |
|
|---|
| Isi APBD Kaltim Dibongkar dalam Dialog Publik Bersama, Anggota DPRD: Uang Rakyat Kok Dirahasiakan |
|
|---|
| Irigasi Rusak Puluhan Tahun, Petani Betapus Samarinda Hanya Panen 4–5 Ton |
|
|---|
| WFH di Samarinda Hemat hingga Rp 70 Juta, Dishub: Pegawai Wajib tak Bawa Kendaraan BBM Setiap Jumat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250810-Perumahan-Kledang-Mas-Samarinda-Seberang.jpg)