Berita Samarinda Terkini
Transformasi Sidodadi Samarinda, dari Lahan Bekas Kebakaran ke Hunian Legal dan Layak
Program konsolidasi tanah tahun 2024 di Kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA — Program konsolidasi tanah tahun 2024 di Kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur mulai dirasakan manfaatnya oleh warga.
Khususnya mereka para korban kebakaran di eks Jalan Dr. Sutomo Gang 2, Kelurahan Sidodadi, Kota Samarinda.
Penyerahan sertifikat tanah secara resmi dilakukan pada Kamis (14/8/2025).
Kontan saja kegiatan ini disambut antusias warga yang kini memiliki lahan dengan ditunjang akses jalan yang memadai.
Baca juga: Korban Kebakaran Samarinda Dapat Sertifikat Tanah, Andi Harun Dorong Penataan Kawasan
Salah satu warga RT 32, M Fadhillah, mengaku program ini sangat membantu keluarganya, terutama setelah musibah kebakaran yang melanda kawasan tersebut.
“Surat tanah itu kebetulan punya saya sudah bersertifikat, cuma punya kakak dan saudara di bagian belakang masih gabung, belum sertifikat," tutur Fadhillah.
"Jadi dengan program ini dibantulah kita, dengan konsekuensi untuk diambil sedikit untuk yang lain,” ujarnya lagi.
Fadhillah menjelaskan, meski bantuan yang diberikan tidak dalam bentuk uang tunai, nilainya setara sekitar Rp 50 juta untuk satu sertifikat.
Baginya, bantuan tersebut menjadi sokongan penting meskipun keluarga tetap perlu mencari tambahan untuk membangun kembali rumah.
“Jadi sedikit banyaknya terbantu walaupun kita tetap juga mencarikan sisanya. Paling tidak pemerintah sudah bantu,” katanya.
Selain kepemilikan lahan yang jelas, ia menilai manfaat besar dari konsolidasi tanah adalah pelebaran jalan lingkungan dari sebelumnya sempit menjadi selebar 3 meter sampai 4 meter.
Baca juga: Dampak Kebakaran Pasar Segiri Samarinda, Pedagang Dukung 2 Langkah Andi Harun: Taktis dan Panjang
“Setelah konsolidasi, jalannya jadi lebar dan rumah lebih sehat. Akses masuk kalau misalkan ada bencana, aksesnya lebih cepat. Dulu susah,” tambahnya.
Meski demikian, Fadhillah berharap ke depan pemerintah melengkapi kawasan tersebut dengan fasilitas hydrant sebagai langkah antisipasi bencana.
Kalau bisa ada jalur hydrant, jadi kalau ada kejadian kebakaran air tidak perlu menunggu dari damkar.
"Karena itu tentu perlu waktu. Setidaknya masyarakat sendiri bisa mandiri lebih cepat menangani. Itu yang kami harapkan,” pungkasnya.
