Jumat, 8 Mei 2026

Berita Kaltara Terkini

570 Peserta Ikut Lomba Beduk Sahur di Nunukan, Disbudporapar: Upaya Lestarikan Tradisi Ramadan 

Lomba beduk sahur menggema di sejumlah ruas jalan di Kota Nunukan pada Sabtu (14/3/2026) malam

Tayang:
Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTARA.COM
LOMBA BEDUK SAHUR - Kepala Disbudporapar Nunukan H. Sura’i, saat diwawancarai mengenai kegiatan lomba beduk sahur yang diikuti ratusan peserta dalam rangka Festival Ramadan di Kabupaten Nunukan.(TribunKaltara.com/Fatimah Majid). 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN – Lomba beduk sahur menggema di sejumlah ruas jalan di Kota Nunukan pada Sabtu (14/3/2026) malam. 

Sekitar 570 peserta turut ambil bagian memeriahkan kegiatan yang menjadi rangkaian Festival Ramadan tersebut.

Menariknya, para peserta tidak hanya menggunakan beduk dari barang bekas. Mereka juga berkreasi dengan berbagai alat sederhana seperti ember, drum bekas, hingga botol plastik yang disulap menjadi alat musik pengiring.

Suara tabuhan yang ritmis dan penuh semangat membuat suasana malam Ramadan di Nunukan semakin meriah.

Baca juga: Abadikan Kebaikan Ramadan, Tribun Kaltara Gelar Lomba Foto dan Video Berhadiah Jutaan Rupiah

Lomba beduk sahur ini merupakan rangkaian kegiatan kelima dalam Festival Ramadan yang digelar Pemerintah Kabupaten Nunukan

Sebelumnya, telah dilaksanakan beberapa kegiatan seperti lomba azan, pidato bahasa Arab, serta pawai Nuzulul Quran.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan, H. Sura’i, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya mengajak generasi muda mengenal sekaligus mencintai budaya lokal yang dahulu sangat lekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi dan penggunaan gawai di kalangan anak muda, tradisi seperti beduk sahur perlu kembali dikenalkan.

“Untuk generasi muda yang saat ini tantangannya adalah gadget dengan teknologi informasi yang begitu deras, kita kembali mengingatkan mereka untuk mencintai budaya asli Indonesia. Semua kegiatan ini menggunakan alat tradisional, tidak ada yang modern,” ujarnya kepada TribunKaltara.com.

Sura’i menjelaskan, sebelum listrik dan teknologi berkembang seperti saat ini, masyarakat memiliki cara sederhana namun penuh kebersamaan untuk membangunkan sahur.

“Melalui kegiatan lomba beduk sahur ini kita juga mengajak generasi muda untuk melestarikan budaya daerah. Dulu kita belum punya lampu listrik seperti sekarang, untuk mengingatkan sahur, anak-anak turun ke jalan menabuh beduk dan alat sederhana,” ungkapnya.

Ia juga mengenang masa mudanya di Nunukan pada era 1980-an yang diwarnai tradisi serupa.

“Saya sendiri di tahun 80-an di Nunukan ini juga selalu membangunkan sahur bersama teman-teman. Jadi kegiatan ini sangat bermakna, karena tujuannya melestarikan budaya-budaya lokal yang sejak dahulu sudah dilakukan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Sura’i menyebut lomba beduk sahur juga menjadi ruang kreativitas bagi anak muda. Para peserta tidak hanya menggunakan beduk, tetapi juga memanfaatkan berbagai alat sederhana dari barang bekas.

“Di sini mereka menggunakan alat-alat tradisional, bahkan dari barang bekas seperti drum dan botol. Tujuannya agar generasi muda bisa mengingat kembali masa-masa dulu, sekaligus belajar berkreasi memanfaatkan lingkungan,” jelasnya.

Sumber: Tribun kaltara
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved