Senin, 13 April 2026

Program Makan Bergizi Gratis

11 Dapur MBG di Tarakan Ditutup, 28 Ribu Penerima Terdampak

Penutupan 11 dapur MBG di Tarakan berdampak besar, 28 ribu penerima manfaat dari sekolah dan posyandu sementara tak mendapat layanan makan bergizi.

TRIBUNKALTIM.CO
PENUTUPAN DAPUR MBG - Ilustrasi pelajar di Tarakan, Kalimantan Utara sedang menikmati MBG. Penutupan sementara 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, berdampak luas terhadap distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). (TRIBUNKALTIM.CO) 

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 11 dapur SPPG ditutup akibat masalah IPAL yang belum memenuhi standar.
  • Dampaknya, 28.243 penerima manfaat dari 85 sekolah dan 87 posyandu terdampak.
  • Distribusi MBG diperkirakan kembali normal setelah aktivitas sekolah berjalan penuh usai TKA.

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN — Penutupan sementara 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, berdampak luas terhadap distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Imbas hal tersebut sekira 28 ribu penerima manfaat tak lagi mendapatkan layanan.

Dampak tersebut meliputi 85 sekolah dan 87 posyandu yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan total sekitar 28.243 penerima manfaat terdiri dari siswa, guru, tenaga kependidikan, ibu hamil, balita, hingga PIC.

Penutupan ini dipicu persoalan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dinilai belum memenuhi standar, sehingga operasional dapur SPPG dihentikan sementara.

Baca juga: Motor Listrik untuk Kepala SPPG MBG Mulai Didistribusikan, Pengamanan Ketat di Gudang Penyimpanan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, membenarkan kondisi tersebut dan menyebut distribusi MBG di sejumlah sekolah saat ini terganggu.

"Nanti di tanggal 17 baru normal pembelajaran. Tapi bagi sekolah-sekolah yang mengadakan TKA itu cuma ada 2 hari atau 3 hari. Nanti anak-anak kembali lagi. Kalau MBG yang jalan tetap ada, kecuali yang memang di stop sementara," terang Tamrin Toha, Minggu (12/04/2026).

Ia menjelaskan, penghentian operasional 11 dapur SPPG tersebut mengacu pada surat dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang telah diterbitkan sebelumnya.

" Saya memang sempat baca itu ya, ada beberapa sekolah. Yang pemberhentian SPBG itu mulai 31 Maret ya. Sebenarnya kalau Kaltar itu kan ada 18 ya. Sementara itu Tarakan 11 dapur," sebutnya.

Baca juga: Pemkot Samarinda Bina Pengelolaan Limbah Dapur MBG, DLH Turun Tangan

Meski demikian, ia menilai dampak penghentian layanan belum terlalu dirasakan secara luas lantaran saat ini sebagian siswa masih menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA), khususnya kelas 6 SD dan kelas 9 SMP.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan akan mulai terasa ketika kegiatan belajar mengajar kembali normal.

Tamrin juga mencontohkan salah satu dapur SPPG di Juata Kerikil yang mengalami penurunan jumlah penerima manfaat akibat pembatasan operasional.

"Jumlah sasaran yang tadinya ada 3.000 sekarang turun menjadi 2.000 atau 1.000. Yang jelas pasti anak-anak itu mempertanyakan, maksudnya orang tua. Kita berikan pemahaman saja bahwa itu karena memang dari ketentuan BGN itu sepanjang memenuhi syarat sebagai sebuah SPPG ya memang tentu perlu dipending dulu. Kami sih dari anak-anak memahami saja ya, dari sekolah-sekolah termasuk juga guru pendidikan di sekolah," jelasnya.

Baca juga: 74 Dapur MBG di Kaltim Ditutup Sementara, Ribuan Siswa Terdampak dan Kembali Bawa Bekal

Adapun rincian dampak penutupan 11 dapur SPPG tersebut tersebar di empat kecamatan.

Di Kecamatan Tarakan Barat, dua SPPG ditutup berdampak pada 14 sekolah dan 6 posyandu dengan total 3.979 penerima manfaat.

Kemudian di Tarakan Tengah, enam SPPG ditutup sehingga 45 sekolah dan 50 posyandu terdampak dengan total 16.336 penerima.

Selanjutnya di Tarakan Utara, dua SPPG ditutup berdampak pada 22 sekolah dan 27 posyandu dengan total 5.887 penerima.

Sementara di Tarakan Timur, satu SPPG ditutup berdampak pada 4 sekolah dan 4 posyandu dengan total 2.041 penerima manfaat.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat program MBG menyasar kelompok rentan dan pelajar sebagai upaya pemenuhan gizi. (*)

Sumber: Tribun kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved