Dokter Minim, Pasien Puskesmas Palaran Ini Harus Antre Lama
Sekitar 60 pasien harus antre lama karena Puskesmas Rawat Inap di Palaran, Samarinda hanya punya 3 dokter.
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA -Minimnya dokter di sejumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Samarinda membuat para petugas paramedis atau perawat kebingungan. Pasalnya, pemberian obat kepada pasien harus dilakukan oleh dokter. Tidak bisa lagi diberikan oleh perawat maupun mantri seperti dulu.
"Sekarang ini sudah ada aturan baru bahwa paramedis atau perawat tidak boleh memberikan obat kepada pasien. Itu harus dilakukan oleh dokter. Namun saat dokternya minim seperti di puskesmas kami, itu menjadi kendala," ucap Koordinator Unit Gawat Darurat Puskesmas Palaran, M Huseini, belum lama ini.
Dikatakan, jumlah dokter di Puskesmas Palaran hanya tiga orang. Padahal, Puskesmas Palaran agak berbeda dengan puskesmas lain. Puskesmas Palaran melayani rawat inap. Sebelumnya ada empat. Namun salah satunya resign atau keluar. Bahkan puskesmas itu harus meminjam dokter dari Bukuan untuk sementara waktu. (Baca juga: Pasien Kecewa, karena Puskesmas di Samarinda Tutup Jam 09.00)
"Setiap hari jumlah pasien mencapai 40 hingga 60 orang. Itu hanya ditangani tiga dokter. Salah satu dokternya libur, karena itu puskesmas kami meminjam dokter dari Bukuan untuk membantu pelayanan pasien di tempat kami. Pelayanan bagi seluruh pasien jadi lebih lama karena minimnya dokter" jelasnya.
Huseini menambahkan, untuk jumlah tenaga paramedis atau perawat di puskesmas yang memiliki UGD itu masih mencukupi. "Hanya dokternya saja yang kurang, sepertinya butuh dua lagi. Sebenarnya sudah diusulkan, tapi belum ada," imbuhnya.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, dr Sri Puji Astuti, mengatakan, sebuah puskesmas rawat inap selayaknya memiliki lima sampai tujuh dokter. Mereka akan bekerja secara shift agar dapat memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat.
"Untuk puskemas biasa itu memerlukan dokter minimal tiga orang. Kalau yang rawat inap tentu membutuhkan dokter lima sampai tujuh orang. Jadi, dengan jumlah dokter di Palaran itu tentu kekurangan. Bicara kekurangan, semua puskemas di Samarinda ini kurang dokter," paparnya.(oda)
Batu Loncatan
Berkurangnya, dokter-dokter di puskemas, menurut dr Sri Puji Astuti, karena dokter-dokter yang bekerja di puskemas, setelah lulus kuliah, kemudian hendak melanjutkan kuliahnya lagi. Terkesan kuat tugas di puskesmas hanya sebagai batu loncatan.
Namun, keinginan para dokter untuk kuliah lagi mengambil program spesialisasi tidak bisa dilarang. (Baca juga: Dokter Pedalaman Khawatir Anaknya Bakal Kekurangan Gizi)
"Sebenarnya lulusannya banyak, hanya saja setelah kuliah (ambil spesialis), mereka memilih kembali ke daerahnya masing-masing."
"Ada juga yang setelah mengambil satu atau dua tahun di puskesmas, mereka melanjutkan kuliahnya lagi. Kami berharap pemerintah bisa merekrut dokter dari Jawa atau Sulawesi sebagai PNS untuk datang ke sini," sambungnya.(oda)