Minggu, 3 Mei 2026

Amalah dan Doa

Adab dan Ketentuan saat Ziarah Kubur, Dilengkapi Doa yang Bisa Dipanjatkan

Tradisi sebagian masyarakat sebelum memasuki bulan Ramadhan berziarah kubur ke orangtua, saudara dan keluarga yang sudah meninggal

Tayang:
Editor: Nur Pratama
DOK TRIBUNKALTIM.CO
ZIARAH KUBUR- Ilustrasi ziarah kubur menjelang memasuki bulan suci Ramadhan 2026. 

TRIBUNKALTIM.CO - Kurang lebih 2 minggu lagi memasuki bulan Suci Ramadhan.

Tradisi sebagian masyarakat sebelum memasuki bulan Ramadhan berziarah kubur ke orangtua, saudara dan keluarga yang sudah meninggal.

Bulan Syaban adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender hijriah yang penuh dengan keberkahan dan amalan sunnah. 

Dalam tradisi Islam, Syaban sering disebut sebagai bulan persiapan menuju Ramadhan, di mana umat dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan. 

Baca juga: Keutamaan dan Amalan-amalan yang Bisa Dikerjakan di Bulan Syaban

Salah satu tradisi yang umum dilakukan masyarakat Muslim, khususnya di Jawa dan Nusantara di bulan Syaban atau Ruwah, adalah ziarah kubur

Tradisi ziarah kubur juga menjadi momentum untuk introspeksi diri, menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara, dan setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. 

Tata Cara dan Doa Ziarah Kubur di Bulan Syaban 

Hukum ziarah kubur menurut hadis Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan sebagai berikut.

عن بُرَيْدَةَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِى زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَة. [رواه مسلم وابو داود والترمذي وابن حبان والحاكم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Buraidah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Dahulu aku pernah melarang ziarah kubur, maka telah diizinkan bagi Muhammad berziarah kubur bundanya. Maka berziarahlah kubur, sebab hal itu mengingatkan akhirat”.” [HR. Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim]

1. Luruskan Niat dan Tujuan saat Hendak Berziarah Kubur

Niat adalah salah satu bagian terpenting dari segala perbuatan manusia. Suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk bermula dari niatnya. Dalam sebuah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan;

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ». [رواه الجماعة]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Alqamah ibn Waqas al-Laitsy ia berkata: saya telah mendengar Umar bin Khattab ra sedang di atas mimbar dan berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. …” [HR. Jama’ah]

Oleh karena itu, niat ziarah kubur hanyalah untuk mendoakan ahli kubur dan sekaligus sebagai sarana kita untuk mengingat akhirat sebagaimana disebutkan sebelumnya. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved