Wabah Hantavirus
Penjelasan Dokter soal Hantavirus, Penularannya Tanpa Perlu Gigitan Tikus
Hantavirus diketahui dapat menyerang sistem pernapasan hingga ginjal dan pada kondisi tertentu berujung pada komplikasi serius yang mengancam jiwa.
Ringkasan Berita:
- Hantavirus kembali menjadi perhatian global setelah muncul kasus di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia
- Virus ini dapat menular melalui udara yang tercemar urin, feses, atau air liur tikus yang mengering
- Dosen FK Universitas Surabaya, dr. Risma Ikawaty Ph.D., menjelaskan seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular. Risiko infeksi meningkat di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kontak tinggi dengan hewan pengerat.
TRIBUNKALTIM.CO - Perhatian dunia terhadap penyebaran Hantavirus kembali meningkat setelah muncul laporan kasus pada kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Virus yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus, ini kini menjadi perhatian karena memiliki kemampuan menular tanpa harus melalui gigitan secara langsung.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, para ahli kesehatan mengingatkan pentingnya memahami cara penyebaran virus tersebut.
Hantavirus diketahui dapat menyerang sistem pernapasan hingga ginjal dan pada kondisi tertentu berujung pada komplikasi serius yang mengancam jiwa.
Baca juga: Kemenkes: 2 Kasus Suspek Hantavirus di Indonesia Sudah Dinyatakan Negatif
Berbeda dengan anggapan umum bahwa penularan hanya terjadi akibat gigitan tikus, Hantavirus justru lebih sering menyebar melalui udara yang telah terkontaminasi partikel virus dari kotoran tikus.
Kondisi ini membuat lingkungan yang kurang bersih dan memiliki populasi tikus tinggi menjadi faktor risiko utama penyebaran penyakit.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Risma Ikawaty, Ph.D., menjelaskan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran virus tersebut.
Menurutnya, pencegahan masih menjadi cara paling efektif karena hingga kini Hantavirus tetap termasuk penyakit yang berbahaya.
Hantavirus Termasuk Penyakit Zoonosis
Hantavirus dikenal sebagai penyakit zoonosis. Istilah zoonosis merujuk pada penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Dalam kasus ini, tikus dan hewan pengerat lainnya menjadi media utama penyebaran virus.
Penularan biasanya terjadi ketika manusia menghirup udara yang telah tercemar partikel virus dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering.
Partikel tersebut kemudian bercampur di udara dan masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.
Karena itulah seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular Hantavirus. R
isiko infeksi tetap ada hanya karena berada di lingkungan dengan intensitas kontak tinggi terhadap hewan pengerat.
“Walaupun begitu, wabah ini dapat dicegah melalui beberapa upaya antara lain pengendalian populasi tikus atau hewan pengerat secara berkelanjutan, memperbaiki sanitasi dan kebersihan lingkungan, mengurangi kontak dengan tikus," ujar Risma Ikawaty.
| Kemenkes: 2 Kasus Suspek Hantavirus di Indonesia Sudah Dinyatakan Negatif |
|
|---|
| 23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia dari 2024-2026, Anggota DPR Minta Perkuat Deteksi Dini |
|
|---|
| Ada 2 Orang Suspek di Indonesia, Apa Itu Hantavirus dan Bisakah jadi Pandemi Seperti Covid-19? |
|
|---|
| Ada 2 Kasus Suspek Hantavirus di Indonesia, Data Kemenkes terkait Virus yang Muncul di Kapal Pesiar |
|
|---|
| Kronologi Dua Pasien Suspek Hantavirus sampai di Singapura, Kini Dikarantina dan Diawasi Ketat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250623_tikus-virus-hanta.jpg)