Iran Vs Amerika Memanas
Arab Saudi Siap Balas Iran, Jika Wilayahnya Terus Diserang
Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran menargetkan sejumlah negara Teluk.
Ringkasan Berita:
- Serangan drone dan rudal Iran menyasar negara Teluk, termasuk Kuwait, Arab Saudi, dan UEA, menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
- Iran meminta maaf dan menyebut serangan sebagai respons terhadap agresi AS-Israel, namun eskalasi masih berlanjut.
- Arab Saudi memperingatkan kemungkinan balasan militer, sementara dunia internasional mendesak jalur diplomasi untuk mencegah perang regional.
TRIBUNKALTIM.CO — Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran menargetkan sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan ini tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur vital seperti Bandara Internasional Kuwait, yang menjadi pusat transportasi penting di kawasan.
Pada Minggu (8/3/2026), dua tangki bahan bakar di bandara tersebut dilaporkan terkena serangan drone.
Kementerian Pertahanan Kuwait menyebut sistem pertahanan udara mereka langsung merespons dengan mencegat gelombang drone dan rudal.
Meski tiga rudal balistik berhasil dihentikan, dua personel militer Kuwait dilaporkan tewas.
Eskalasi Konflik Regional
Serangan ini menambah daftar panjang eskalasi sejak perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari 2026.
Konflik dipicu serangan militer AS dan Israel terhadap fasilitas Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke berbagai target di Timur Tengah.
Arab Saudi melaporkan berhasil menembak jatuh belasan drone yang mengarah ke Riyadh, termasuk kawasan diplomatik.
UEA menghadapi ancaman serupa, dengan sebuah kendaraan di Dubai terkena serpihan proyektil yang menewaskan seorang warga Pakistan.
Serangan drone juga memicu gangguan penerbangan di beberapa bandara Teluk, membuat otoritas penerbangan Saudi mengeluarkan peringatan perjalanan.
Iran Minta Maaf
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan yang terjadi.
Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap agresi militer yang dialami Iran dan bukan ditujukan kepada negara tetangga secara langsung.
Pezeshkian, menurut kabar The Guardian, juga menyatakan Iran tidak akan menyerang negara tetangga kecuali jika wilayah negara tersebut digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu dianggap sebagai upaya meredakan kekhawatiran di kawasan, meski serangan sporadis masih terus terjadi.
Meski demikian, sejumlah analis menilai sinyal de-eskalasi tersebut belum sepenuhnya menenangkan situasi karena operasi militer Iran di kawasan masih berlangsung.
Beberapa laporan menyebut drone Iran juga menargetkan fasilitas militer dan radar yang digunakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Peringatan Arab Saudi
Sementara itu, Arab Saudi memperingatkan Iran agar tidak melanjutkan serangan terhadap wilayahnya, dilansir Reuters.
Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyampaikan kepada pejabat Iran bahwa Riyadh dapat mempertimbangkan tindakan balasan jika serangan terhadap aset Saudi terus berlanjut, terutama yang menyasar fasilitas energi atau infrastruktur vital.
Menurut sumber diplomatik, Saudi juga menegaskan bahwa mereka tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan Amerika Serikat terhadap Iran.
Namun, Riyadh membuka kemungkinan kerja sama militer dengan Washington jika keamanan nasionalnya terus terancam.
Konflik yang kini memasuki pekan kedua tersebut telah berdampak luas pada stabilitas kawasan.
Serangan rudal dan drone tidak hanya menargetkan Iran dan Israel, tetapi juga menyebar ke negara-negara Teluk seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Selain korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, perang ini juga memicu gangguan transportasi udara, lonjakan harga minyak global, serta kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional yang lebih besar.
Sejumlah negara besar dan organisasi internasional kini mendesak semua pihak untuk menahan diri dan membuka jalur diplomasi guna mencegah konflik Timur Tengah berubah menjadi perang yang lebih luas dan tidak terkendali. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Iran Bilang Bukan Menarget Negara Teluk, Arab Saudi Bersiap Membalas
| Selat Hormuz Kian Memanas, Jet Tempur AS Tembaki Kapal Tanker, Iran Ungkit Soal Bom Atom |
|
|---|
| Rusia dan China Siap Tolak Resolusi PBB Usulan AS dan Bahrain, Dinilai Terlalu Sudutkan Iran |
|
|---|
| 2,5 Jam Presiden Iran Bertemu Mojtaba Khamenei, Apa Isi Pembicaraannya? |
|
|---|
| Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz |
|
|---|
| Viral Video AI Donald Trump Terjebak di 'Selat Hormuz', Diunggah Kedubes Iran di Hungaria |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260308_SERANGAN-IRAN.jpg)