Berita Nasional Terkini
Harga BBM Aman, tapi Pembelian Dibatasi, Ini Penjelasan Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi diproyeksikan tetap stabil hingga akhir 2026.
Ringkasan Berita:
- Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tak naik hingga 2026, selama harga minyak mentah tetap di kisaran aman.
- Pemerintah tetap waspada dampak konflik Timur Tengah, termasuk potensi gangguan pasokan lewat Selat Hormuz.
- Meski harga ditahan, pemerintah mulai membatasi pembelian Pertalite dan Solar demi mengantisipasi krisis energi.
TRIBUNKALTIM.CO - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi diproyeksikan tetap stabil hingga akhir 2026.
Kepastian ini diberikan dengan catatan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) masih berada dalam rentang tertentu.
Menurut Bahlil, selama ICP bertahan di kisaran 100–120 dolar AS per barel, pemerintah masih mampu menahan kenaikan harga BBM subsidi.
Selain faktor harga minyak global, stabilitas geopolitik, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, juga menjadi penentu utama kebijakan energi nasional.
"Kalau untuk harga (BBM) subsidi, insyaallah kalau sampai dengan 100-120 dolar ICP, insyaallah masih (tidak naik harganya)," kata Bahlil, dikutip dari YouTueb Total Politik, Sabtu (11/4/2026).
Baca juga: Sinyal Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi, Kapan? Bahlil: Pemerintah Hitung Ulang dengan Pertamina
Selain itu, Bahlil juga menjamin harga BBM subsidi tidak akan naik ketika konflik di Timur Tengah berhenti.
"Kalau katakanlah perang 2-3 bulan selesai, ya kita nggak perlu naikkan dong," jelasnya.
Kendati demikian, Bahlil mengatakan tidak bisa menjamin tak ada kenaikan dari BBM nonsubsidi, termasuk avtur.
Dia menegaskan meski ada kenaikan harga avtur di Indonesia, tetapi dibanding dengan negara lain masih lebih lurah.
Bahlil juga mengungkapkan ketika pemerintah tidak menaikkan harga avtur, pesawat dari maskapai negara lain akan mengisi bahan bakar di Indonesia.
Akibatnya, pemerintah harus membayar subsidi avtur meski yang mengisi adalah pesawat dari negara lain.
"Kalau tidak kita naikkan harga avtur, itu semua airlines (maskapai) akan datang transit ke Indonesia dan akan mengisi di Indonesia. Dan kemudian negara harus membayar subsidinya," ujarnya.
Bahlil juga menjelaskan kemampuan produksi atau lifting minyak mentah di Indonesia.
Dia menyebut Indonesia mampu untuk melakukan lifting sebanyak 605 ribu barel per hari.
Baca juga: Bahlil Diminta Kerja Cepat, Prabowo Target Cabut Izin Tambang Ilegal dalam 1 Minggu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260303_Menteri-ESDM_Bahlil_BBM-Indonesia_konflik-AS-Israel_Iran.jpg)