Breaking News
Rabu, 6 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pasokan BBM Australia hanya 38 Hari, Pemerintah Panik Cari Pasokan ke Asia

Pemerintah menyebut stok bensin hanya cukup untuk sekitar 38 hari, sementara solar dan bahan bakar jet masing-masing berada di bawah satu bulan.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tangkap layar Google Earth
SELAT HORMUZ - Tangkap layar posisi Selat Hormuz di Google Earth. Australia bergerak cepat menghadapi tekanan ketahanan energi setelah cadangan bahan bakar nasional dilaporkan berada pada level mengkhawatirkan. (Tangkap layar Google Earth) 

Ringkasan Berita:
  • Australia menghadapi tekanan energi setelah cadangan BBM dilaporkan menipis, dengan stok bensin hanya cukup 38 hari dan solar 31 hari.
  • Perdana Menteri Anthony Albanese dijadwalkan ke Brunei dan Malaysia untuk mengamankan pasokan energi di tengah krisis global.
  • Pemerintah juga meluncurkan kampanye hemat BBM dan memperkuat impor, sementara ketergantungan energi impor dinilai membuat Australia rentan terhadap gejolak global.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Australia bergerak cepat menghadapi tekanan ketahanan energi setelah cadangan bahan bakar nasional dilaporkan berada pada level mengkhawatirkan.

Pemerintah menyebut stok bensin hanya cukup untuk sekitar 38 hari, sementara solar dan bahan bakar jet masing-masing berada di bawah satu bulan.

Situasi ini mendorong Perdana Menteri Anthony Albanese melakukan lawatan diplomatik ke Brunei dan Malaysia pada 14–17 April 2026.

Kunjungan tersebut difokuskan untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan pangan di tengah krisis global.

Baca juga: Selat Hormuz Lumpuh Total, Kapal Berbalik Arah Usai AS Blokade Pelabuhan Iran

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan global akibat krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada lonjakan harga bahan bakar dan gangguan rantai pasok internasional.

Data terbaru yang dikutip dari Straits Times menunjukkan cadangan energi Australia berada pada level yang cukup mengkhawatirkan. Stok bensin hanya cukup untuk sekitar 38 hari, solar 31 hari, dan bahan bakar jet sekitar 28 hari.

Kondisi ini membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan, meskipun sejauh ini pasokan nasional masih dinyatakan stabil.

Pemerintah juga mencatat setidaknya 57 kapal tanker sedang dalam perjalanan menuju Australia untuk memasok kebutuhan bahan bakar.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, pemerintah bahkan mulai mendorong masyarakat melakukan penghematan penggunaan bahan bakar melalui kampanye nasional.

Baca juga: Warga AS Frustasi Harga BBM Melonjak Imbas Konflik Iran, Segini Harga Bensin Per Liter

Ketergantungan Impor Jadi Tantangan

Krisis yang terjadi di Australi dipicu oleh terganggunya rantai pasok global akibat konflik geopolitik, yang menyebabkan distribusi energi tidak stabil dan harga melonjak.

Ketika pasokan impor tersendat, Australia tidak memiliki cadangan domestik yang cukup kuat untuk menutup kebutuhan tersebut dalam jangka panjang.

Selain itu, struktur industri energi Australia menjadi faktor utama. Sebagian besar hasil produksi energi, khususnya LNG, lebih difokuskan untuk ekspor ke pasar internasional.

Sementara kapasitas kilang dalam negeri untuk mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar siap pakai relatif terbatas. Akibatnya, Australia harus mengimpor kembali produk energi yang sebenarnya bisa berasal dari sumbernya sendiri.

Situasi ini membuat Australia rentan terhadap gangguan pasokan global, terutama saat terjadi krisis energi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved