Berita Nasional Terkini
Daftar 10 Mata Uang Terlemah di Dunia 2026 Versi Forbes dan Dampaknya, Rupiah Peringkat ke-5
Daftar 10 mata uang terlemah di dunia 2026 versi Forbes Advisor, rupiah Indonesia peringkat 5, cek penyebab dan analisis nilai tukar terbaru
Ringkasan Berita:
- Daftar 10 mata uang terlemah di dunia 2026 menempatkan rupiah di posisi kelima berdasarkan nilai tukar terhadap dolar AS.
- Penilaian ini bersifat nominal dan tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi suatu negara.
- Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, termasuk kebijakan fiskal dan sentimen pasar.
TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar mata uang global kembali menjadi sorotan pada 2026.
Berdasarkan laporan Forbes Advisor, terdapat daftar 10 mata uang terlemah di dunia yang diukur dari nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Penilaian ini didasarkan pada jumlah unit mata uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan 1 dolar AS.
Semakin banyak unit yang dibutuhkan, maka mata uang tersebut dianggap semakin lemah secara nominal.
Baca juga: Forbes Sebut Rupiah Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah di Dunia, Ekonom: Konteksnya Terbatas
Apa Itu Mata Uang Terlemah?
Dalam konteks ini, mata uang lemah bukan berarti ekonomi negara tersebut buruk secara keseluruhan.
Nilai tukar dipengaruhi berbagai faktor seperti inflasi, suku bunga, perdagangan internasional, kebijakan bank sentral, hingga stabilitas politik.
Daftar 10 Mata Uang Terlemah di Dunia 2026 Versi Forbes
Berikut daftar lengkap berdasarkan kurs per 7 April 2026:
1. Rial Iran (IRR)
- Nilai: sekitar $0.000001
- Artinya, 1 USD = 1.315.800 rial Iran
Mata uang ini tertekan akibat sanksi ekonomi dan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
2. Pound Lebanon (LBP)
- Nilai: $0.000011
- 1 USD = 89.565,64 pound Lebanon
Inflasi tinggi, krisis perbankan, dan ketidakstabilan politik menjadi penyebab utama pelemahan.
3. Dong Vietnam (VND)
- Nilai: $0.000038
- 1 USD = 26.336,58 dong Vietnam
Tekanan datang dari perlambatan ekspor dan tingginya suku bunga global.
4. Kip Laos (LAK)
- Nilai: $0.000045
- 1 USD = 22.065,41 kip Laos
Dipengaruhi pertumbuhan ekonomi yang lambat, utang luar negeri, dan inflasi tinggi.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
- Nilai: $0.000059
- 1 USD = 17.066,15 rupiah
Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk lima besar daftar ini.
6. Som Uzbekistan (UZS)
- Nilai: $0.000082
- 1 USD = 12.202,05 som
Masih menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
7. Franc Guinea (GNF)
- Nilai: $0.000114
- 1 USD = 8.774,19 franc Guinea
Dipengaruhi inflasi tinggi dan ketidakstabilan politik.
8. Franc Burundi (BIF)
- Nilai: $0.000336
- 1 USD = 2.972,40 franc Burundi
Ekonomi yang bergantung pada ekspor kopi dan teh membuat mata uang rentan.
9. Ariary Madagaskar (MGA)
- Nilai: $0.000239
- 1 USD = 4.177,54 ariary
Didorong sektor pertanian dan ekspor komoditas seperti vanila.
10. Guarani Paraguay (PYG)
- Nilai: $0.000154
- 1 USD = 6.485,51 guarani
Terpengaruh inflasi dan masalah ekonomi domestik.
Baca juga: Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi
Mengapa Rupiah Masuk Daftar?
Masuknya rupiah dalam daftar ini menarik perhatian.
Namun, perlu dicatat bahwa indikator ini hanya berdasarkan nilai nominal terhadap dolar AS, bukan kekuatan ekonomi secara keseluruhan.
Menurut laporan Fitch Solutions, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh:
- Kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal pemerintah
- Potensi pelebaran defisit APBN
- Sentimen investor global
- Arus modal keluar dari pasar domestik
Selain itu, faktor global seperti inflasi dan suku bunga tinggi di negara maju juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut bahwa secara fundamental rupiah sebenarnya masih cukup stabil.
“Faktor-faktor fundamental seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan rupiah seharusnya lebih stabil.” katanya, seperti dilansir Kompas.com.
Antara Nilai Tukar dan Kekuatan Ekonomi
Meski termasuk dalam daftar mata uang terlemah, Indonesia tetap merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 1,5 triliun dolar AS pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen juga menunjukkan ketahanan ekonomi domestik.
Namun, struktur ekonomi yang masih bergantung pada komoditas dan impor membuat nilai tukar rupiah rentan terhadap fluktuasi global.
Siap, bro. Ini versi yang sudah diperkuat dengan kutipan langsung dari otoritas resmi biar lebih kredibel dan layak tayang:
Dampak Melemahnya Nilai Mata Uang, Ini Penjelasan BI dan IMF
Melemahnya nilai mata uang suatu negara terhadap dolar AS membawa dampak luas terhadap perekonomian.
Hal ini tidak hanya memengaruhi perdagangan internasional, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat.
Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar sangat penting untuk menjaga perekonomian nasional.
“Stabilitas nilai tukar rupiah sangat penting dalam mendukung pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas sistem keuangan,” tulis Bank Indonesia dalam publikasi resminya.
1. Harga Impor Naik, Inflasi Meningkat
Ketika mata uang melemah, harga barang impor menjadi lebih mahal.
Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.
International Monetary Fund juga menyoroti dampak tersebut terhadap inflasi global.
“Depreciation can increase import prices and pass through to domestic inflation,” tulis IMF dalam laporan ekonomi globalnya.
Artinya, pelemahan mata uang dapat meningkatkan harga impor dan berdampak pada inflasi domestik.
2. Beban Utang Luar Negeri Bertambah
Jika pemerintah atau perusahaan memiliki utang dalam mata uang asing, pelemahan nilai tukar akan meningkatkan beban pembayaran.
IMF menjelaskan bahwa negara dengan ketergantungan tinggi pada utang luar negeri akan lebih rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Baca juga: Rupiah Dinilai Rentan, Nilai Tukar Terancam Capai Rp 20.000 Per Dollar AS
3. Tekanan pada Investasi dan Pasar Keuangan
Pelemahan mata uang sering kali memicu keluarnya modal asing dari suatu negara.
Menurut Fitch Solutions, sentimen investor terhadap risiko fiskal dan kebijakan ekonomi dapat mempercepat tekanan pada nilai tukar.
4. Ekspor Lebih Kompetitif
Di sisi lain, pelemahan mata uang dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena harga produk menjadi lebih murah di pasar global.
Namun, manfaat ini bergantung pada struktur ekonomi dan kapasitas produksi dalam negeri.
5. Dampak Langsung ke Masyarakat
Bagi masyarakat, dampak pelemahan mata uang antara lain:
- Harga barang naik
- Biaya perjalanan luar negeri meningkat
- Biaya pendidikan luar negeri lebih mahal
Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ilustrasi-rupiah-terhadpa-dolar-as-222.jpg)