Opini
Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi
Rupiah bukan sekadar alat tukar, tetapi simbol kedaulatan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi ekonomi
Oleh: Dody Setiawan
Jabatan: Administrator Perkasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim
TRIBUNKALTIM.CO - Dulu, perjuangan bangsa ini identik dengan suara tembakan dan strategi di medan laga. Para pahlawan berdiri di garis depan, mempertaruhkan segalanya demi satu kata “Merdeka”.
Namun hari ini, perjuangan itu tidak lagi terdengar bising. Ia berubah menjadi lebih halus, lebih dekat, bahkan sering kali tak kita sadari keberadaannya.
Perjuangan itu kini hadir dalam setiap transaksi yang kita lakukan.
Di pasar tradisional, di pusat perbelanjaan, hingga dalam genggaman secara digital.
Rupiah berpindah tangan tanpa suara. Ia tampak sederhana, hanya selembar kertas atau angka di layar.
Baca juga: Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan
Namun di balik kesederhanaannya, Rupiah memegang peran besar sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di negeri ini.
Setiap kali kita menggunakannya, kita sedang menegaskan bahwa di tanah ini, Indonesia berdiri dengan sistemnya sendiri, dengan kedaulatannya sendiri.
Lebih dari sekadar alat tukar, Rupiah adalah bahasa pemersatu. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, setiap orang memahami nilai yang sama ketika melihat angka yang tertera di atasnya.
Tidak peduli perbedaan suku, agama, budaya, atau bahasa daerah, Rupiah menyatukan kita dalam satu kesepahaman ekonomi. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan jutaan manusia dalam satu denyut yang sama, yaitu aktivitas ekonomi bangsa.
Di dalam setiap lembar Rupiah, tersimpan cerita tentang Indonesia. Wajah para pahlawan mengingatkan kita pada sejarah panjang perjuangan. Gambar alam dan budaya menjadi cerminan kekayaan negeri yang tak ternilai.
Baca juga: Catatan 40 Tahun Berkarir sebagai PNS: Merintis Camat Babulu hingga Dua Jabatan Kepala Dinas Baru
Rupiah bukan sekadar uang, melainkan representasi identitas. Ia adalah simbol bahwa bangsa ini berdiri dengan jati dirinya sendiri, tidak bergantung pada simbol negara lain.
Namun, di tengah kemudahan transaksi global dan derasnya arus digitalisasi, tantangan terhadap eksistensi Rupiah juga semakin nyata.
Penggunaan mata uang asing dalam transaksi domestik, misalnya, bukan hanya soal pilihan praktis, tetapi perlahan dapat mengikis makna kedaulatan itu sendiri. Ketika Rupiah tidak lagi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, di situlah kita mulai kehilangan sebagian dari identitas bangsa.
Karena itu, bangga terhadap Rupiah bukanlah sekadar slogan, melainkan sikap. Sikap untuk selalu menggunakan Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah Indonesia.
| Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan |
|
|---|
| Catatan 40 Tahun Berkarir sebagai PNS: Merintis Camat Babulu hingga Dua Jabatan Kepala Dinas Baru |
|
|---|
| Menatap Masa Depan ASN Status PPPK: Imbas TKD Turun, Ancaman PHK pada 2027? |
|
|---|
| Catatan Harian: Fenomena Mudik Lebaran hanya Ada di Indonesia |
|
|---|
| Ritual 'Horor' Hantui ASN Waktu Absensi WFA |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260411_Dody-Setiawan-Administrator-Perkasan-Kantor-Perwakilan-Bank-Indonesia-Kaltim.jpg)