Hari Kartini 2026
Jejak Hidup Soesalit Djojoadhiningrat, Putra RA Kartini yang Pernah Jadi Jenderal dan Tahanan Rumah
Soesalit Djojoadhiningrat jalani hidup penuh tragedi sejak bayi, jadi yatim piatu hingga tumbuh tanpa sorotan publik.
Ringkasan Berita:
- Soesalit Djojoadhiningrat jalani hidup penuh tragedi sejak bayi, jadi yatim piatu hingga tumbuh tanpa sorotan publik.
- Kariernya berliku, dari aparat kolonial hingga pejuang, namun terseret isu Pemberontakan PKI Madiun 1948.
- Meski anak R.A. Kartini, Soesalit justru tinggalkan pesan agar keturunannya hidup sederhana tanpa mengandalkan nama besar.
TRIBUNKALTIM.CO - Sosok Soesalit Djojoadhiningrat jarang muncul dalam pembahasan sejarah, meski ia merupakan anak semata wayang dari RA Kartini.
Di balik nama besar sang ibu sebagai pelopor emansipasi perempuan, perjalanan hidup Soesalit justru diwarnai berbagai dinamika yang tak banyak diketahui publik.
Lahir pada awal abad ke-20, Soesalit harus menghadapi kenyataan pahit sejak usia sangat dini.
Ia kehilangan ibunya hanya beberapa hari setelah dilahirkan, lalu menyusul menjadi yatim piatu saat sang ayah wafat ketika ia masih anak-anak, menjadikannya tumbuh dalam kondisi penuh keterbatasan emosional.
Padahal, perjalanan hidup Soesalit Djojoadhiningrat penuh dengan cerita pahit, dari menjadi yatim piatu sejak kecil, hingga dituduh terlibat dalam pemberontakan dan berakhir sebagai tahanan rumah.
Baca juga: 50 Ucapan Hari Kartini 2026, Inspiratif dan Penuh Makna untuk Caption Media Sosial
Profil Soesalit Djojoadhiningrat
Soesalit Djojoadhiningrat lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 13 September 1904.
Ia adalah anak kandung RA Kartini dengan suaminya, RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat, Bupati Rembang kala itu.
Namun, hanya empat hari setelah melahirkannya, RA Kartini wafat.
Soesalit pun tumbuh tanpa kasih sayang ibu.
Tragedi serupa kembali terjadi ketika Soesalit baru menginjak usia delapan tahun.
Sang ayah meninggal dunia, menjadikannya yatim piatu.
Setelah itu, Soesalit diasuh oleh neneknya, Ngasirah, serta kakak tirinya yang tertua, Abdulkarnen Djojoadhiningrat.
Abdulkarnen-lah yang membiayai pendidikan Soesalit dan mengatur jalannya kehidupan sang adik tiri.
Layaknya RA Kartini, Soesalit mengenyam pendidikan di Europe Lagere School (ELS), sekolah elite yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan kaum bangsawan pribumi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/soesalit-dan-keluarganya.jpg)