Selasa, 5 Mei 2026

Hari Kartini 2026

Jejak Hidup Soesalit Djojoadhiningrat, Putra RA Kartini yang Pernah Jadi Jenderal dan Tahanan Rumah

Soesalit Djojoadhiningrat jalani hidup penuh tragedi sejak bayi, jadi yatim piatu hingga tumbuh tanpa sorotan publik.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Arsip Indonesia
ANAK RA KARTINI - Foto arsip Soesalit dan keluarganya. Sosok Soesalit Djojoadhiningrat jarang muncul dalam pembahasan sejarah, meski ia merupakan anak semata wayang dari RA Kartini. 

Pada 1919, ia lulus dari ELS dan melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, kemudian masuk Rechtshoogeschool (RHS) di Batavia—sekolah tinggi hukum bergengsi pada masa kolonial.

Namun, Soesalit hanya menempuh pendidikan hukum selama setahun.

Ia kemudian bekerja sebagai pegawai pamong praja kolonial.

Baca juga: 20 Ucapan Selamat Hari Kartini 2026 yang Menyentuh Hati dan Link Twibbon Gratis

Dari Polisi Rahasia ke Tentara Sukarela

Soesalit mengambil arah yang mengejutkan ketika Abdulkarnen menawarinya posisi di Politieke Inlichtingen Dienst (PID), yakni polisi rahasia Hindia Belanda.

Tugasnya adalah memata-matai kaum pergerakan nasional dan mengantisipasi spionase asing, termasuk dari Jepang.

Pekerjaan ini membuat batin Soesalit terbelah—di satu sisi ia bekerja untuk pemerintahan kolonial, tapi di sisi lain ia paham bahwa tugasnya justru mengkhianati bangsanya sendiri.

Situasi berubah saat Jepang menguasai Indonesia.

Soesalit meninggalkan PID dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), tentara sukarela bentukan Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Soesalit aktif dalam perjuangan fisik.

Ia pernah menjadi Panglima Divisi III Diponegoro dan bergerilya di Gunung Sumbing saat Agresi Militer Belanda II. 

Namun, karier militernya tidak berjalan mulus.

Soesalit yang sempat berpangkat Mayor Jenderal, diturunkan pangkatnya menjadi Kolonel, hingga kemudian dipindahkan ke Kementerian Perhubungan.

Puncak penderitaan Soesalit terjadi pada peristiwa Pemberontakan PKI Madiun 1948.

Baca juga: Wanita Berau Bergowes Ria, Rayakan Hari Kartini Sambil Bersepeda dan Berkebaya

Dalam sebuah dokumen yang disita pemerintah, namanya tercantum sebagai "orang yang diharapkan" oleh kelompok pemberontak.  

Pada September 1948, terjadi peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun yang menyeret namanya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved