Jumat, 24 April 2026

Berita Nasional Terkini

Rupiah Melemah ke Rp17.300, Ekonom Ingatkan Dampak Bertahap

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian global dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Tribunnews.com/Jeprima
IMBAS RUPIAH MELEMAH - Pegawai menunjukan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di gerai penukaran uang Ayu Masagung di Jalan Kramat Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian global dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Bank Indonesia (BI) mencatat, pada 21 April 2026 rupiah berada di level Rp17.140 per dollar AS, melemah 0,87 persen dibanding akhir Maret. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp17.300 per dollar AS, dipicu ketidakpastian global dan konflik Timur Tengah.
  • Dampak ke masyarakat belum terasa langsung, tetapi berpotensi menaikkan biaya hidup secara bertahap.
  • Pemerintah melalui APBN dan langkah BI berupaya meredam tekanan, sementara masyarakat dan pelaku usaha diminta memperkuat ketahanan finansial.

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian global dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Bank Indonesia (BI) mencatat, pada 21 April 2026 rupiah berada di level Rp17.140 per dollar AS, melemah 0,87 persen dibanding akhir Maret.

Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah sempat menembus Rp17.300 sebelum ditutup di Rp17.286, turun 0,61 persen dari hari sebelumnya.

Baca juga: Adu Kuat Rupiah dengan Mata Uang Negara-negara ASEAN, Mana yang Paling Lemah terhadap Dollar AS?

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah saat ini belum berdampak langsung pada masyarakat.

“Dampaknya bagi masyarakat, belum berarti krisis langsung hari ini, tetapi tekanan ke depan jelas ada,” ujarnya.

Ia menambahkan, daya beli masih relatif terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 di level 122,9 dan Indeks Penjualan Eceran Februari 2026 yang tumbuh 6,5 persen.

Dampak Bertahap ke Biaya Hidup

Josua mengingatkan, pelemahan berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, energi, dan logistik.

Dampak ini tidak terjadi sekaligus, melainkan merambat ke berbagai sektor seperti transportasi, jasa pertanian, perikanan, serta industri berbasis bahan baku impor (kimia dasar, plastik, karet, farmasi, hingga manufaktur).

Bagi masyarakat, dampak tersebut umumnya terasa melalui kenaikan ongkos transportasi, harga pangan, barang impor, obat-obatan, barang rumah tangga, dan biaya usaha kecil yang bahan bakunya masih tergantung impor. 

“Efeknya bukan semata kurs di pasar uang, tetapi biaya hidup yang naik pelan-pelan,” katanya.

Baca juga: Rupiah di Posisi 5 Sebagai Mata Uang Terlemah di Dunia, Rial Iran Paling Lemah

Imbauan untuk Masyarakat dan Usaha

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak panik membeli dollar AS ketika rupiah melemah seperti saat ini. 

Namun masyarakat diminta untuk memperkuat ketahanan keuangan.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin menjaga arus kas, menunda belanja barang impor yang tidak mendesak, memperbesar dana darurat, dan berhati-hati menambah utang dengan bunga mengambang.

Sementara bagi pelaku usaha, langkah mitigasi yang disarankan mencakup pencocokan penerimaan dan pembayaran valuta asing (valas), penggunaan lindung nilai (hedging), pengelolaan persediaan dan, serta memepercepat penagihan piutang.

"Jadi yang perlu dilakukan masyarakat bukan berspekulasi, melainkan menurunkan kerentanan terhadap kenaikan biaya hidup dan kurs," ucapnya.

Baca juga: Harga BBM Diesel Naik Drastis, Isi Full Tank Dex Series untuk SUV bisa Sampai Jutaan Rupiah

APBN Jadi Shock Absorber 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved