Jumat, 8 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Mengaku Tidak Istirahat Memikirkan Sumber Energi Pengganti Elpiji

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku tidak istirahat, mengkaji bagaimana caranya agar bisa menekan impor elpiji.

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/Siti Zubaidah
SUMBER PENGGANTI ELPIJI - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, berserta jajarannya mengaku tidak istirahat, mengkaji bagaimana caranya agar bisa menekan impor elpiji. (TRIBUNKALTIM.CO/SITI ZUBAIDAH) 

TRIBUNKALTIM.CO - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, berserta jajarannya mengaku tidak istirahat, mengkaji bagaimana caranya agar bisa menekan impor elpiji.

Diketahui, ketergantungan Indonesia terhadap impor gas elpiji masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.

Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah terus memutar otak mencari solusi alternatif untuk menekan impor elpiji yang mencapai jutaan ton setiap tahun.

Baca juga: Harga BBM Aman, tapi Pembelian Dibatasi, Ini Penjelasan Bahlil Lahadalia

Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026), Bahlil menegaskan bahwa pencarian sumber energi pengganti elpiji menjadi fokus utama pemerintah.

“Saya juga melaporkan (ke Presiden Prabowo Subianto) bahwa untuk elpiji ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber elpiji-nya,” kata Bahlil, dilansir dari Kompas.com.

Bahlil menjelaskan, kebutuhan elpiji nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun.

Namun, kapasitas produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton per tahun.

Baca juga: BBM Tidak Naik per 1 April 2026, Bahlil Lahadalia: Kalau Naik, Harganya Tidak Terlalu Jauh

Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta ton elpiji setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan industri.

“Kita tahu bahwa elpiji kita, konsumsi kita 8,6 juta ton per tahun dan dari 8,6 juta itu hanya kurang lebih sekitar 1,6 - 1,7 yang produksinya dalam negeri. Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta. Dan ini terjadi sejak konversi daripada minyak tanah ke elpiji,” beber Bahlil.

Menurutnya, salah satu hambatan utama dalam pengembangan industri elpiji nasional adalah keterbatasan bahan baku berupa senyawa C3 dan C4 yang menjadi komponen utama produksi elpiji.

“Salah satu problem kita di Indonesia kenapa tidak bisa kita membangun industri elpiji adalah bahan baku elpiji itu C3, C4. Dan itu produksi di kita tidak terlalu banyak,” ucap dia.

Baca juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pantau Proyek RDMP Balikpapan, Minta Perkuat Ketahanan Energi

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kini mengkaji sejumlah opsi strategis, termasuk pengembangan gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi elpiji.

Selain itu, pemerintah juga tengah mendalami potensi penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga.

“Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi,” ucap Bahlil.

“Dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor elpiji bisa dapat kita lakukan,” lanjutnya.

Baca juga: Peresmian RDMP Balikpapan, Bahlil Lahadalia: Insya Allah Tahun Ini Kita Tidak Lagi Impor Solar

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved