Iran Vs Amerika Memanas
Donald Trump Beri 2 Pilihan ke Iran, Kesepakatan atau Penghacuran untuk Akhiri Perang Selamanya
Presiden Amerika (AS) Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran setelah menyatakan ketidakpuasannya
Ringkasan Berita:
- Donald Trump kembali mengancam Iran setelah menolak proposal damai terbaru Teheran, menyebut tuntutannya tak dapat diterima.
- Trump menegaskan AS siap memilih diplomasi atau aksi militer besar, sambil mempertahankan blokade laut sebagai tekanan utama.
- Meski Iran berupaya negosiasi lewat Pakistan, risiko eskalasi tetap tinggi di tengah ketegangan Selat Hormuz dan ancaman baru dari kedua pihak.
TRIBUNKALTIM.CO - Presiden Amerika (AS) Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran setelah menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran melalui mediator Pakistan.
"Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, dikutip dari AFP, Sabtu (2/5/2026), dilansir dari Kompas.com.
“Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui,” sambungnya.
Baca juga: Trump Siapkan Operasi Baru di Selat Hormuz Setelah Perang dengan Iran Berakhir Secara Hukum AS
Trump menilai negosiasi masih berjalan, tetapi belum menunjukkan titik terang karena adanya perpecahan serius di internal kepemimpinan Iran.
“Saya tidak yakin apakah mereka akan pernah mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Presiden AS itu kembali menegaskan bahwa pilihannya hanya dua: melanjutkan diplomasi atau melakukan aksi militer besar-besaran.
“Apakah kita ingin langsung menghancurkan mereka dan mengakhiri mereka selamanya atau kita ingin mencoba membuat kesepakatan? Maksud saya, itulah pilihannya,” jelas Trump.
Baca juga: Setelah 300 Hari, Amerika Serikat Tarik Kapal Induk Terbesar di Dunia dari Perang Iran
Meski mengaku lebih memilih jalur diplomasi, Trump juga menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka jika Iran tidak bersedia memenuhi tuntutan Washington, terutama terkait penghentian permanen program nuklirnya.
Pernyataan ini muncul setelah Iran menyerahkan proposal baru pada Kamis malam, yang disebut sebagai upaya untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur perdagangan di Strait of Hormuz.
Namun, pemerintah AS masih mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang dinilai Gedung Putih sebagai alat tekanan utama terhadap Teheran.
Trump bahkan menyebut blokade tersebut lebih efektif dibandingkan serangan udara dalam menekan ekonomi Iran.
Baca juga: Pernyataan Presiden FIFA dan Donald Trump soal Iran di Piala Dunia 2026, Tegaskan Tetap Main di AS
Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut hampir seperlima pasokan energi dunia.
Penutupan atau gangguan berkepanjangan di kawasan ini terus memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.
Meski gencatan senjata sejak awal April masih bertahan, proses negosiasi damai belum menghasilkan kesepakatan berarti, sementara risiko eskalasi militer tetap tinggi jika pembicaraan kembali menemui jalan buntu.
Harga Minyak Dunia Sempat Turun
Sementara itu, hHarga minyak mentah turun pada hari Jumat (1/5/2026) waktu setempat setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada para mediator di Pakistan.
Baca juga: Jelang Batas Waktu 60 Hari Kongres AS, Pemerintahan Donald Trump Nyatakan Perang Iran Berakhir
| Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Ajukan Proposal Negosiasi Terbaru ke AS |
|
|---|
| Trump Siapkan Operasi Baru di Selat Hormuz Setelah Perang dengan Iran Berakhir Secara Hukum AS |
|
|---|
| Setelah 300 Hari, Amerika Serikat Tarik Kapal Induk Terbesar di Dunia dari Perang Iran |
|
|---|
| Survei: 57 Persen Warga Israel Nilai Negaranya Belum Menang Lawan Hamas |
|
|---|
| Ogah Pakai Rompi Antipeluru, Donald Trump Ngaku Tak Mau Terlihat Gemuk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260414_Presiden-AS_Donald-Trump_mantan-Direktur-CIA-serukan-penggulingan_.jpg)