Minggu, 3 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Bensin di AS Naik Tertinggi, Warga Marah pada Donald Trump

Warga AS tak kuasa menahan amarah ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik ke level tertinggi sejak 2022, buntut dari serangan AS-Israel ke Iran.

Tayang:
Instagram realdonaldtrump
HARGA BBM DI AS - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Warga Amerika Serikat tak kuasa menahan amarah ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik ke level tertinggi sejak 2022, buntut dari serangan AS-Israel ke Iran. 

TRIBUNKALTIM.CO - Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi sejak 2022, memicu kemarahan warga.

Kenaikan ini terjadi setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, sebagai buntut dari konflik dengan AS dan Israel.

Di Los Angeles, seorang warga bernama Ryder Thomas (28) mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengisi penuh tangki kendaraannya.

Baca juga: Donald Trump Hadapi Kondisi Pahit Imbas Perang dengan Iran

Di salah satu pom bensin Los Angeles, Ryder Thomas  dengan muka masam mengisi BBM ke kendaraannya. 

“Saya marah melihat harganya, tetapi saya lebih marah lagi mengapa harganya begitu tinggi,” ujarnya kepada AFP, Sabtu (2/5/2026).

Untuk mengisi penuh (full tank) kini Thomas harus merogoh kocek 130 dollar AS (Rp 2,25 juta), naik 30 dollar AS (Rp 519.000) dari sebelumnya. 

Kenaikan harga bensin dipicu terganggunya pasokan minyak global, setelah Iran memblokade Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima minyak dan gas dunia. 

Baca juga: Trump Berkonflik dengan Kanselir Jerman, AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin

Situasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah yang kemudian berdampak langsung pada harga BBM di berbagai wilayah "Negeri Paman Sam".

Di California, harga bensin bahkan menembus lebih dari 6 dollar AS (Rp 104.000) per galon atau sekitar 1,59 dollar AS (Rp 27.500) per liter, naik dari kisaran 4,5 dollar AS (Rp 78.000) per galon sebelum perang pecah.

Thomas menilai, perang yang dipimpin Presiden AS Donald Trump tidak memiliki alasan jelas dan justru memperburuk kondisi ekonomi masyarakat.

“Perang ini sama sekali tidak perlu. Sama seperti ketika kita menginvasi Irak, tidak ada senjata pemusnah massal,” keluhnya.

Dampak Ekonomi di AS Terus Meluas 

Selama beberapa pekan, Trump berulang kali menyatakan bahwa serangan ke Iran bertujuan mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir, dan berjanji perang tak berlarut-larut.

Namun, kondisi di lapangan justru sebaliknya. Dampak ekonomi kini terus meluas akibat gangguan pasokan energi global.

Baca juga: Trump Sebut AS Seperti Bajak Laut di Tengah Memanasnya Konflik Iran di Selat Hormuz

Thomas juga mengkhawatirkan efek berantai dari kenaikan tarif BBM terhadap harga kebutuhan lain seperti makanan dan pakaian.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved