Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Pelemahan Rupiah Dekati Rekor Terendah, Ini Dampaknya bagi Kelas Menengah

Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level historis kembali menambah tekanan pada kondisi ekonomi nasional dalam beberapa waktu terakhir. 

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan mata uang rupiah dan dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Rupiah melemah di kisaran Rp17.500 per dolar AS, mendekati level terlemah sejarah. IHSG juga terkoreksi di tengah arus keluar modal asing dan ketidakpastian global. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah di kisaran Rp17.500 per dolar AS, mendekati level terlemah sejarah. IHSG juga terkoreksi di tengah arus keluar modal asing dan ketidakpastian global.
  • Dampak mulai dirasakan rumah tangga: kenaikan harga kebutuhan, biaya pendidikan, hingga tekanan pasar kerja. Kelas menengah disebut paling rentan.
  • Situasi dipicu lemahnya kepercayaan pada kebijakan fiskal, tingginya sektor informal, serta data PHK yang meningkat, dengan risiko penurunan kelas sosial makin besar.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level historis kembali menambah tekanan pada kondisi ekonomi nasional dalam beberapa waktu terakhir. 

Situasi ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan global yang turut memengaruhi aliran modal dan stabilitas pasar domestik.

Hingga Kamis (14/5/2026), rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami koreksi akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan berlanjutnya tekanan pada sektor keuangan Indonesia.

Di tengah dinamika pasar tersebut, dampak lanjutan mulai dikhawatirkan merembet ke kehidupan masyarakat sehari-hari.

Baca juga: Harga BBM Terbaru 16 Mei 2026, Pertamax Turbo dan Dexlite Masih Naik di Tengah Rupiah Melemah

Potensi kenaikan harga barang kebutuhan pokok, meningkatnya biaya hidup, hingga tekanan pada sektor ketenagakerjaan menjadi isu yang mulai mencuat di kalangan publik.

Sejumlah ekonom menilai, pelemahan rupiah dan keluarnya modal asing tidak hanya berkaitan dengan faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi persepsi investor terhadap kebijakan fiskal dalam negeri.

Di sisi lain, kondisi ini dinilai dapat memperbesar kerentanan kelas menengah yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi domestik.

“Ini seolah tenang di atas permukaan, tetapi tinggal menunggu waktu sampai efek pelemahan rupiah itu sampai di meja makan,” kata peneliti ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, kepada DW Indonesia.

Bhima menilai tekanan terhadap rupiah dan pasar saham tidak hanya dipicu oleh faktor global, tetapi juga oleh menurunnya kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah utamanya terhadap pengelolaan APBN.

“Sebenarnya yang terjadi adalah ketidakpercayaan terhadap kebijakan fiskal,” ujarnya.

Menurut Bhima, investor melihat belum ada perbaikan signifikan dalam pengelolaan anggaran maupun realokasi belanja untuk perlindungan sosial.

Ia juga menyoroti keraguan pasar terhadap target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,6 persen.

Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi justru menunjukkan kondisi berbeda dengan angka resmi pemerintah.

Baca juga: Rupiah Sentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah, Ekonom Ingatkan Peluang Tekanan Masih Berlanjut

Ancaman Bagi Kelas Menengah

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved