Iran Vs Amerika Memanas
Mereka yang Mendapatkan Keuntungan Miliaran Dollar dari Perang AS-Israel vs Iran
Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ternyata membuat sejumlah pihak mendapatkan keuntungan besar
Ringkasan Berita:
- Perang antara AS-Israel melawan Iran memicu lonjakan laba bagi sejumlah sektor global
- Volatilitas harga akibat terhentinya suplai di Selat Hormuz mendongkrak laba raksasa energi seperti BP ($3,2 M), Shell ($6,92 M), dan TotalEnergies ($5,4 M).
- Bank Wall Street seperti JP Morgan mencatat rekor pendapatan perdagangan hingga $11,6 M. Total laba gabungan sektor ini mencapai $47,7 M di Q1 2026.
TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan geopolitik yang semakin memanas akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ternyata membuat sejumlah pihak mendapatkan keuntungan besar.
Ya, di tengah situasi pelik di mana banyak pihak harus pontang-panting dan berjuang keras hanya demi bertahan hidup, kondisi sebaliknya justru dialami oleh segelintir korporasi besar.
Sejumlah perusahaan global dilaporkan malah mendulang keuntungan fantastis hingga mencapai miliaran dollar AS, atau setara dengan triliunan rupiah.
Baca juga: Alasan Timnas Iran Pindahkan Basecamp Piala Dunia 2026 dari AS ke Meksiko, FIFA Setuju
Melonjaknya pendapatan hingga mencetak rekor baru ini dimungkinkan terjadi karena lini bisnis inti dari perusahaan-perusahaan tersebut justru menjadi jauh lebih diuntungkan dan bernilai tinggi dalam situasi perang, terutama ketika terjadi fluktuasi tajam pada harga energi dunia.
Berikut sejumlah sektor dan perusahaan yang menghasilkan miliaran dollar, atau setara triliunan rupiah, selama konflik di Timur Tengah, dilansir dari Kompas.com:
1. Minyak dan gas
Dampak ekonomi terbesar dari perang sejauh ini adalah lonjakan harga energi.
Sekitar seperlima minyak dan gas dunia biasanya diangkut melalui Selat Hormuz.
Namun, jalur pengiriman tersebut praktis terhenti total pada akhir Februari.
Akibatnya, terjadi gejolak harga yang luar biasa di pasar energi.
Situasi ini ternyata menguntungkan sejumlah perusahaan minyak dan gas terbesar dunia.
Baca juga: AS dan Iran Segera Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Beda Washington dan Teheran soal Selat Hormuz
Penerima manfaat utama adalah raksasa minyak Eropa yang memiliki divisi perdagangan.
Lini bisnis inilah yang mampu mendulang untung dari pergerakan harga yang tajam, sehingga laba perusahaan ikut terdongkrak.
Laba BP meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dollar AS (Rp 55,87 triliun) untuk tiga bulan pertama tahun ini.
Hasil ini diraih setelah divisi perdagangan mereka mencatat kinerja yang dinilai "luar biasa".
Shell juga melampaui ekspektasi analis ketika melaporkan kenaikan laba kuartal pertama menjadi 6,92 miliar dollar AS (Rp 120,82 triliun).
Laba perusahaan internasional "raksasa" lainnya, TotalEnergies, melonjak hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar aollar AS (Rp 94,2 triliun) pada kuartal pertama tahun 2026.
Peningkatan ini didorong oleh volatilitas di pasar minyak dan energi.
Perusahaan besar asal AS, ExxonMobil dan Chevron, sebenarnya mencatat penurunan pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Baca juga: Hubungan AS-Israel Retak? Tel Aviv Cemas Donald Trump Pilih Jalur Damai dengan Iran
Namun, kinerja keduanya tetap melampaui perkiraan analis.
Kedua perusahaan juga memproyeksikan laba perusahaan mereka untuk terus tumbuh sepanjang tahun, sebab harga minyak masih tetap jauh lebih tinggi dibanding saat perang baru dimulai.
2. Bank-bank besar
Sektor perbankan kelas kakap juga mencatat peningkatan laba yang signifikan selama perang di Iran berlangsung.
Divisi perdagangan JP Morgan mencetak rekor pendapatan sebesar 11,6 miliar dollar AS (Rp 202,5 triliun) dalam tiga bulan pertama tahun 2026.
Angka ini membuat bank tersebut meraih laba kuartalan terbesar kedua sepanjang sejarahnya.
Tren positif ini juga dinikmati oleh bank-bank besar Wall Street lainnya, yang mencakup Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo, selain JP Morgan.
Laba seluruh bank-bank besar tersebut meningkat signifikan pada kuartal pertama tahun ini.
Baca juga: Donald Trump Absen di Pernikahan Anak, Konflik Iran Disebut Jadi Penyebab Utama
Secara keseluruhan, kelompok bank ini melaporkan total laba gabungan mencapai 47,7 miliar dollar AS (Rp 832,84 triliun) untuk tiga bulan pertama tahun 2026.
"Volume perdagangan yang tinggi telah menguntungkan bank-bank investasi, khususnya Morgan Stanley dan Goldman Sachs," kata Susannah Streeter, kepala strategi investasi di Wealth Club.
Di sisi lain, bank-bank Wall Street tersebut juga mendapat keuntungan dari tingginya permintaan terhadap aktivitas perdagangan.
Sebab, di kondisi perang, investor meninggalkan saham dan obligasi yang berisiko tinggi.
Mereka memilih mengamankan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Volume perdagangan juga meningkat karena ada investor yang berusaha memanfaatkan volatilitas di pasar keuangan.
"Volatilitas yang dipicu oleh perang telah menyebabkan lonjakan perdagangan. Sebagian investor menjual saham karena khawatir akan eskalasi konflik. Sementara yang lain justru membeli saat harga turun. Langkah ini akhirnya membantu mendorong reli pemulihan di pasar," tambah Streeter.
3. Pertahanan
Analis Senior RSM UK, Emily Sawicz, menilai sektor pertahanan selalu menjadi pihak yang paling cepat diuntungkan dalam setiap konflik.
Baca juga: Wilayah Udara Iran Mendadak Sepi, Muncul Spekulasi Serangan Baru AS ke Teheran
"Konflik ini memperkuat adanya celah dalam kemampuan pertahanan udara, sehingga mempercepat investasi untuk pertahanan rudal, sistem penangkal drone, dan perangkat keras militer di seluruh Eropa dan AS," ujarnya kepada BBC.
Selain menyoroti pentingnya perusahaan pertahanan, perang juga dinilai bisa menciptakan kebutuhan baru bagi pemerintah berbagai negara.
Kondisi tersebut membuat pemerintah terdorong untuk mengisi kembali stok persenjataan mereka, sehingga permintaan bagi perusahaan di sektor ini pun ikut melonjak.
BAE Systems, yang memproduksi komponen jet tempur F-35, memberikan informasi perdagangan mereka pada hari Kamis (7/5/2026) lalu.
Perusahaan ini memperkirakan pertumbuhan tinggi dalam penjualan dan laba tahun ini.
Pihak perusahaan menyebutkan, meningkatnya "ancaman keamanan" di seluruh dunia telah mendorong pengeluaran pertahanan pemerintah, yang pada gilirannya menciptakan "kondisi yang bisa mendukung" bisnis perusahaan.
Tiga kontraktor pertahanan terbesar di dunia, Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman, masing-masing melaporkan rekor antrean pesanan pada akhir kuartal pertama tahun 2026.
Namun, harga saham perusahaan pertahanan mulai turun kembali sejak pertengahan Maret.
Baca juga: Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah dan Tak Butuh Konsesi AS, Hanya Tuntut Hak yang Dirampas
Padahal, saham sektor ini telah naik tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa sektor tersebut sudah dinilai terlalu tinggi.
4. Energi terbarukan
Konflik AS-Israel dan Iran juga menyoroti pentingnya diversifikasi energi.
Negara-negara perlu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tutur Streeter.
Menurutnya, situasi ini telah "mempercepat minat pada sektor energi terbarukan".
Dampaknya bahkan terasa di AS, meskipun pemerintahan Trump gencar mempopulerkan slogan "drill, baby, drill" untuk mendorong penggunaan bahan bakar fosil yang lebih besar.
Streeter mengatakan, perang telah membuat investasi energi terbarukan dipandang semakin krusial.
Baca juga: Perintah Langsung Mojtaba Khamenei, Larang Uranium Dikeluarkan dari Iran, Ini Alasannya
Sektor ini dinilai sangat penting bagi stabilitas dan ketahanan ekonomi terhadap guncangan geopolitik.
Salah satu perusahaan yang diuntungkan adalah NextEra Energy yang berbasis di Florida.
Perusahaan ini mencatat lonjakan nilai saham sebesar 17 persen sepanjang tahun ini.
Salah satu pendorongnya adalah investor yang berbondong-bondong menanamkan modal di perusahaan tersebut.
Perusahaan besar di sektor tenaga angin asal Denmark, Vestas dan Orsted, juga melaporkan lonjakan laba.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana dampak perang Iran ikut mendorong kinerja perusahaan energi terbarukan.
Di Inggris, Octopus Energy baru-baru ini menyampaikan kepada BBC bahwa perang telah memicu "lonjakan besar" dalam penjualan panel surya dan pompa panas.
Penjualan panel surya perusahaan tersebut naik hingga 50 persen sejak akhir Februari.
Lonjakan harga bensin juga ikut meningkatkan permintaan kendaraan listrik.
Momen emas ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para produsen otomotif, khususnya dari China, untuk menangkap peluang pasar global. (*)
| AS dan Iran Segera Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Beda Washington dan Teheran soal Selat Hormuz |
|
|---|
| Hubungan AS-Israel Retak? Tel Aviv Cemas Donald Trump Pilih Jalur Damai dengan Iran |
|
|---|
| 3 Fakta Terbaru Kesepakatan Damai Iran dan Amerika Serikat, Selat Hormuz Jadi Poin Penting |
|
|---|
| Donald Trump Absen di Pernikahan Anak, Konflik Iran Disebut Jadi Penyebab Utama |
|
|---|
| Wilayah Udara Iran Mendadak Sepi, Muncul Spekulasi Serangan Baru AS ke Teheran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260505_Kapal-Perang-Amerika-di-Selat-Hormuz.jpg)