Rabu, 27 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Mereka yang Mendapatkan Keuntungan Miliaran Dollar dari Perang AS-Israel vs Iran

Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ternyata membuat sejumlah pihak mendapatkan keuntungan besar

Tayang:
X/U.S. Central Command
KONFLIK TIMUR TENGAH - Ilustrasi: Kapal perusak berpeluru kendali USS Pinckney. Ketegangan geopolitik yang semakin memanas akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ternyata membuat sejumlah pihak mendapatkan keuntungan besar. (X/U.S. Central Command) 

Ringkasan Berita:
  • Perang antara AS-Israel melawan Iran memicu lonjakan laba bagi sejumlah sektor global
  • Volatilitas harga akibat terhentinya suplai di Selat Hormuz mendongkrak laba raksasa energi seperti BP ($3,2 M), Shell ($6,92 M), dan TotalEnergies ($5,4 M).
  • Bank Wall Street seperti JP Morgan mencatat rekor pendapatan perdagangan hingga $11,6 M. Total laba gabungan sektor ini mencapai $47,7 M di Q1 2026.

TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan geopolitik yang semakin memanas akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ternyata membuat sejumlah pihak mendapatkan keuntungan besar.

Ya, di tengah situasi pelik di mana banyak pihak harus pontang-panting dan berjuang keras hanya demi bertahan hidup, kondisi sebaliknya justru dialami oleh segelintir korporasi besar.

Sejumlah perusahaan global dilaporkan malah mendulang keuntungan fantastis hingga mencapai miliaran dollar AS, atau setara dengan triliunan rupiah.

Baca juga: Alasan Timnas Iran Pindahkan Basecamp Piala Dunia 2026 dari AS ke Meksiko, FIFA Setuju

Melonjaknya pendapatan hingga mencetak rekor baru ini dimungkinkan terjadi karena lini bisnis inti dari perusahaan-perusahaan tersebut justru menjadi jauh lebih diuntungkan dan bernilai tinggi dalam situasi perang, terutama ketika terjadi fluktuasi tajam pada harga energi dunia.

Berikut sejumlah sektor dan perusahaan yang menghasilkan miliaran dollar, atau setara triliunan rupiah, selama konflik di Timur Tengah, dilansir dari Kompas.com:

1. Minyak dan gas

Dampak ekonomi terbesar dari perang sejauh ini adalah lonjakan harga energi.

Sekitar seperlima minyak dan gas dunia biasanya diangkut melalui Selat Hormuz.

Namun, jalur pengiriman tersebut praktis terhenti total pada akhir Februari.

Akibatnya, terjadi gejolak harga yang luar biasa di pasar energi.

Situasi ini ternyata menguntungkan sejumlah perusahaan minyak dan gas terbesar dunia.

Baca juga: AS dan Iran Segera Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Beda Washington dan Teheran soal Selat Hormuz

Penerima manfaat utama adalah raksasa minyak Eropa yang memiliki divisi perdagangan.

Lini bisnis inilah yang mampu mendulang untung dari pergerakan harga yang tajam, sehingga laba perusahaan ikut terdongkrak.

Laba BP meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dollar AS (Rp 55,87 triliun) untuk tiga bulan pertama tahun ini.

Hasil ini diraih setelah divisi perdagangan mereka mencatat kinerja yang dinilai "luar biasa".

Shell juga melampaui ekspektasi analis ketika melaporkan kenaikan laba kuartal pertama menjadi 6,92 miliar dollar AS (Rp 120,82 triliun).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved