Jumat, 29 Mei 2026

Berita Ekbis Terkini

Rupiah Melemah ke Rp17.876 per Dolar AS pada Perdagangan Siang 28 Mei 2026

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026) siang.

Tayang:
Editor: Heriani AM
Tribunnews.com/Jeprima
KURS RUPIAH MELEMAH - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026) siang. 

TRIBUNKALTIM.CO - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026) siang.

Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS serta tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Pukul 12.07 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.876 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,42 persen dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.801 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS siang ini. Won Korea mencatat pelemahan terdalam yakni 0,49 persen, disusul rupiah yang melemah 0,42 persen, ringgit Malaysia melemah 0,35 persen, baht Thailand melemah 0,25 persen.

Baca juga: Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dollar AS, Ekonom Beber Strategi Buat Kalangan Menengah untuk Bertahan

Dolar Singapura melemah 0,21persen, peso Filipina melemah 0,19persen, yuan China melemah 0,09 persen dan rupee India melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.

Sedangkan dolar Hong Kong dan dolar Taiwan menguat terhadap dolar AS siang ini dengan kenaikan masing-masing 0,04 persen dan 0,01 persen.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,49, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 99,20.

Apa Efeknya?

Pelemahan rupiah yang terus berlanjut ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut bukan hanya berdampak pada pelaku usaha besar atau investor, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah hingga warga desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga menurunnya daya beli.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan global dan persoalan domestik yang terjadi bersamaan.

Konflik geopolitik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya disebut menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar global.

Menurut Anton, ancaman penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak dunia membuat investor global memilih memindahkan aset mereka ke dolar AS yang dianggap lebih aman.

Baca juga: Menaker Yassierli: Pemerintah Antisipasi Potensi PHK di Tengah Pelemahan Rupiah

Akibatnya, arus modal asing keluar dari Indonesia semakin besar dan memperlemah rupiah.

“Investor global pasti menganggap sementara ini Indonesia kurang menjanjikan untuk investasi. Mereka memilih memegang aset dolar,” ujarnya, mengutip ums.ac.id, Rabu (27/5/2026).

Selain faktor global, pasar juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai belum konsisten.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved