Iran Vs Amerika Memanas
Donald Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei Jika Kesepakatan Berhasil
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.
Meski pembicaraan damai sebelumnya di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan komprehensif, komunikasi diplomatik antara kedua negara masih terus berlangsung dan memunculkan harapan adanya perjanjian yang lebih luas.
Trump Isyaratkan Fokus Baru ke Kuba
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung Kuba sebagai salah satu agenda berikutnya bagi pemerintahannya setelah urusan dengan Iran selesai.
"Itu sempat runtuh dan kami akan menanganinya segera setelah kami selesai," kata Trump saat ditanya mengenai situasi di Kuba.
"Kami akan menangani Republik Islam Iran. Dan setelah itu selesai, dalam perjalanan kembali, kami akan singgah sebentar," tambahnya.
Baca juga: Iran Tegaskan Tak Percaya Janji AS, Hanya Setuju Kesepakatan Jika Hak Rakyat Sudah Direalisasikan
Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel serta sejumlah orang yang berada di lingkaran dalam kekuasaan Havana.
Beberapa nama yang masuk daftar sanksi antara lain istri Diaz-Canel, Lis Cuesta Peraza, putranya Manuel Anido Cuesta, serta Alejandro Castro Espin yang merupakan putra mantan pemimpin Kuba Raul Castro.
Selain individu, sejumlah lembaga pemerintah dan perusahaan milik negara Kuba juga turut dikenai sanksi baru oleh Washington.
Trump membantah bahwa sanksi tersebut bertujuan mempercepat kemunduran Kuba. Menurutnya, Amerika Serikat hanya ingin melihat Kuba menjadi negara yang mampu mengelola pemerintahan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.
"Kami hanya ingin mereka menjadi negara yang dikelola dengan baik dan mampu memberi makan rakyatnya. Lihat saja, itu adalah negara yang gagal," kata Trump.
Hubungan Amerika Serikat dan Kuba sendiri telah berlangsung penuh ketegangan selama beberapa dekade, ditandai embargo ekonomi serta berbagai gelombang sanksi yang kerap diberlakukan Washington dengan alasan hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan.
Respons Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila negosiasi antara Washington dan Teheran membuahkan kesepakatan.
Araghchi meminta publik melihat kemungkinan tersebut secara realistis dan sesuai kondisi yang terjadi di lapangan. Ia juga menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei saat ini memegang kendali penuh atas jalannya pemerintahan Republik Islam Iran.
Dalam keterangannya kepada media Iran, Araghchi menjelaskan bahwa alasan Mojtaba Khamenei belum banyak tampil di ruang publik berkaitan dengan faktor keamanan.
Menurutnya, lembaga keamanan Iran telah menyarankan agar pemimpin tertinggi baru tersebut membatasi kemunculan publik demi menghindari potensi ancaman terhadap keselamatannya.
Meski demikian, Araghchi memastikan komunikasi antara pemerintah dan Mojtaba Khamenei berjalan intensif serta arahan-arahannya terus menjadi dasar pengambilan kebijakan negara.
| Netanyahu Sebut AS-Israel Tetap Bersahabat Meski Dirinya Dimaki Donald Trump |
|
|---|
| Trump Ungkit Jasanya Selamatkan Netanyahu dari Ancaman Penjara, Minta Israel Hentikan Serangan |
|
|---|
| Israel Serang Lebanon, Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS, Trump Ngotot |
|
|---|
| Isu Hubungan AS-Israel Retak, Donald Trump Dikabarkan Maki Netanyahu terkait Serangan ke Lebanon |
|
|---|
| Jual Beli Serangan AS vs Iran Pecah, Teheran Beri Syarat Mutlak Soal Lebanon |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260601_Presiden-AS_Amerika-Serikat_Donald-Trump_kondisi-kesehatan.jpg)