Senin, 8 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Donald Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei Jika Kesepakatan Berhasil

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.

Tayang:
Instagram realdonaldtrump
DONALD TRUMP - Foto Presiden AS, Donald Trump yang diunggah di akun pribadinya yang terverifikasi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila proses negosiasi antara Washington dan Teheran menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak. 
Ringkasan Berita:
  • Trump buka peluang bertemu Pemimpin Tertinggi Iran jika tercapai kesepakatan diplomatik.
  • Syarat utama kesepakatan adalah penghentian ambisi senjata nuklir Iran.
  • Iran tegaskan kendali Mojtaba atas pemerintahan pasca wafatnya Ali Khamenei.

TRIBUNKALTIM.CO - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kemungkinan dirinya bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila negosiasi antara Washington dan Teheran menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan.

Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih, Kamis (5/6/2026) waktu setempat.

Ia menegaskan bahwa pertemuan dengan pemimpin baru Iran bukan hal mustahil jika diplomasi berjalan positif.

“Saya tidak ingin bertemu, tetapi jika saya bertemu, saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya,” kata Trump.

"Saya ingin melihat apakah kami bisa mencapai kesepakatan. Jika kesepakatan itu tercapai, maka ada kemungkinan saya akan bertemu dengannya," lanjut Trump.

Baca juga: Israel Serang Lebanon, Iran Tangguhkan Negosiasi dengan AS, Trump Ngotot

Trump menambahkan, syarat utama dalam kesepakatan adalah penghentian ambisi pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

“Bagian utama dari kesepakatan itu adalah mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Senjata nuklir adalah senjata pemusnah massal yang menggunakan reaksi nuklir sebagai sumber ledakan.

Selain itu, Trump mengingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan militer jika pasukan AS menjadi korban serangan Iran.

Ia juga optimistis jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz akan kembali normal setelah operasi pembersihan ranjau laut.

Selat Hormuz adalah jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute vital ekspor minyak global.

Mojtaba Khamenei diketahui menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik yang pecah pada akhir Februari 2026.

Baca juga: Jual Beli Serangan AS vs Iran Pecah, Teheran Beri Syarat Mutlak Soal Lebanon

Konflik Iran-AS Masih Membayangi

Pernyataan Trump muncul di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran setelah gencatan senjata rapuh diberlakukan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.

Perang antara kedua negara dimulai pada 28 Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3.000 orang tewas selama konflik berlangsung, sementara sedikitnya 13 personel militer Amerika Serikat dilaporkan gugur akibat serangan balasan Iran.

Selama konflik berlangsung, Iran melancarkan serangan terhadap Israel dan sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Meski pembicaraan damai sebelumnya di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan komprehensif, komunikasi diplomatik antara kedua negara masih terus berlangsung dan memunculkan harapan adanya perjanjian yang lebih luas.

Trump Isyaratkan Fokus Baru ke Kuba

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung Kuba sebagai salah satu agenda berikutnya bagi pemerintahannya setelah urusan dengan Iran selesai.

"Itu sempat runtuh dan kami akan menanganinya segera setelah kami selesai," kata Trump saat ditanya mengenai situasi di Kuba.

"Kami akan menangani Republik Islam Iran. Dan setelah itu selesai, dalam perjalanan kembali, kami akan singgah sebentar," tambahnya.

Baca juga: Iran Tegaskan Tak Percaya Janji AS, Hanya Setuju Kesepakatan Jika Hak Rakyat Sudah Direalisasikan

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel serta sejumlah orang yang berada di lingkaran dalam kekuasaan Havana.

Beberapa nama yang masuk daftar sanksi antara lain istri Diaz-Canel, Lis Cuesta Peraza, putranya Manuel Anido Cuesta, serta Alejandro Castro Espin yang merupakan putra mantan pemimpin Kuba Raul Castro.

Selain individu, sejumlah lembaga pemerintah dan perusahaan milik negara Kuba juga turut dikenai sanksi baru oleh Washington.

Trump membantah bahwa sanksi tersebut bertujuan mempercepat kemunduran Kuba. Menurutnya, Amerika Serikat hanya ingin melihat Kuba menjadi negara yang mampu mengelola pemerintahan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

"Kami hanya ingin mereka menjadi negara yang dikelola dengan baik dan mampu memberi makan rakyatnya. Lihat saja, itu adalah negara yang gagal," kata Trump.

Hubungan Amerika Serikat dan Kuba sendiri telah berlangsung penuh ketegangan selama beberapa dekade, ditandai embargo ekonomi serta berbagai gelombang sanksi yang kerap diberlakukan Washington dengan alasan hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan.

Respons Iran 

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, apabila negosiasi antara Washington dan Teheran membuahkan kesepakatan.

Araghchi meminta publik melihat kemungkinan tersebut secara realistis dan sesuai kondisi yang terjadi di lapangan. Ia juga menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei saat ini memegang kendali penuh atas jalannya pemerintahan Republik Islam Iran.

Dalam keterangannya kepada media Iran, Araghchi menjelaskan bahwa alasan Mojtaba Khamenei belum banyak tampil di ruang publik berkaitan dengan faktor keamanan.

Menurutnya, lembaga keamanan Iran telah menyarankan agar pemimpin tertinggi baru tersebut membatasi kemunculan publik demi menghindari potensi ancaman terhadap keselamatannya.

Meski demikian, Araghchi memastikan komunikasi antara pemerintah dan Mojtaba Khamenei berjalan intensif serta arahan-arahannya terus menjadi dasar pengambilan kebijakan negara.

“Mojtaba Khamenei kini adalah pemimpin Republik Islam Iran dan memiliki peran yang sangat dekat serta berpengaruh dalam perkembangan negara,” kata Araghchi.

“Ia memiliki kendali penuh atas berbagai urusan,” lanjutnya.

Loyalitas kepada Pemimpin Baru

Araghchi juga menekankan bahwa transisi kepemimpinan tidak mengurangi dukungan elite politik maupun masyarakat terhadap institusi kepemimpinan Iran.

Menurutnya, loyalitas yang sebelumnya diberikan kepada mendiang Ayatollah Ali Khamenei kini sepenuhnya dialihkan kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru revolusi Iran.

“Tingkat kepatuhan dan loyalitas yang sebelumnya diberikan kepada pemimpin yang gugur kini juga diberikan secara penuh kepada pemimpin baru revolusi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa struktur kekuasaan di Iran tetap solid pasca pergantian kepemimpinan yang terjadi di tengah konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Begini Respons Teheran

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved