Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Menyambut Hari Pendidikan Nasional: Masih Rendahnya Karakter Murid

Tahun ini merupakan Hardiknas  ke-67. Hardiknas pertama kali diperingati pada 2 Mei 1960, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST
HARDIKNAS - Ilustrasi - Tahun ini merupakan Hardiknas  ke-67. Hardiknas pertama kali diperingati pada 2 Mei 1960, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Cukup lama bukan? 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim *)

TRIBUNKALTIM.CO - Tanggal 2 Mei merupakan hari istimewa, yaitu Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Tahun ini merupakan Hardiknas  ke-67. Hardiknas pertama kali diperingati pada 2 Mei 1960, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Cukup lama bukan?

Ibarat manusia, usia 67 itu bukan lagi kategori dewasa, tapi sudah kategori lanjut usia (lansia). Masuk usia senja.

Ibarat matahari sudah mulai masuk ke peraduannya, yaitu memasuki pergantian siang dan malam. Kira-kira waktunya sudah masuk waktu maghrib. Namun, berbagai persoalan pendidikan masih banyak yang harus diselesaikan.

Penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional mengacu pada Hari lahirnya Ki Hajar Dewantara. Pendiri Taman Siswa dan mantan Menteri Pendidikan pertama pada kepemimpinan Presiden Soekarno.

Mengenal dari Dekat Ki Hajar Dewantara

Siapa yang tidak kenal Ki Hajar Dewantara? Walaupun sudah cukup dikenal, tetapi saya menduga masyarakat  masih  banyak yang belum tahu nama asli almarhum.

Nama aslinya, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara saat berusia 40 tahun, pada 1929.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta.

Namun hebatnya Presiden Soekarno, masih pada tahun yang sama dengan kepergian almarhum, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional ke-2, dengan Keputusan Presiden Soekarno pada 28 November 1959.

Ayah almarhum Ki Hajar Dewantara, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Soerjaningrat. Sedangkan ibunya bernama Gusti Raden Ayu (GRAY) Sandilah.

Kakek almarhum adalah Sri Paku Alam III. Dari silsilah ini nampak jelas, beliau berdarah biru, seorang Bangsawan Pakualaman. Tetapi dalam hidupnya, beliau peduli sama rakyat jelata.

 Ki Hajar Dewantara seorang bangsawan yang tidak mempertahankan kebangsawanannya.

Mau turun ke lapangan untuk mengangkat derajat rakyat lewat pendidikan.

Tidak hanya mengajarkan baca tulis, tetapi ia mengajar dan memahamkan bagaimana menjadi manusia merdeka.

Ki Hajar Dewantara yang pernah dibuang ke Belanda, karena dianggap membahayakan eksistensi Pemerintah Kolonial, justru setelah kembali ke Indonesia fokus pada bidang pendidikan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, “pendidikan itu bukan tujuan, tetapi alat untuk memerdekakan manusia lahir dan batin”.

Hal ini dapat dibuktikan dengan pendirian Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sekolah pertama buat pribumi.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, sekolah hanya diperuntukkan bagi anak Eropa dan priyayi.

Rakyat biasa gak boleh sekolah. Maka Ki Hajar Dewantara mendobrak tradisi tersebut dengan mendirikan Sekolah atau Taman Siswa.

Ada pelajaran dari semboyan yang sangat fenomenal dan legendaris dari Ki Hajar Dewantara.

Bahkan, semboyan tersebut  masih relevan hingga saat ini, yaitu “Ing ngarso sung tuladha - Ing madya mangun karsa - Tut wuri handayani”. Ajaran ini bukan hanya sebagai slogan, tetapi merupakan “Trilogi Kepemimpinan Pendidikan”.

“Ing ngarsa sung tuladha”. Bagaimana pemimpin berperan di depan. Filosofinya, pemimpin gak boleh cuma nyuruh. Harus jalan duluan. Ngasih contoh nyata. Harus bisa jadi teladan.

Contoh, guru berharap murid bisa disiplin. Guru harus disiplin terlebih dahulu. Datang duluan ke sekolah.

Orang tua mau anaknya bisa jujur, maka orang tuanya jangan bohong. Kadang orang tua tidak sadar mengajari kebohongan dan ketidakjujuran.

Contoh sederhana, misalnya di rumah kedatangan tamu si Fulan. Sang ayah tidak berkenan menerima kehadiran si Fulan.

Lalu sang ayah menyampaikan pesan kepada anaknya, agar disampaikan kepada tamu.

“Kasih tahu Pak Fulan, ayah lagi gak enak badan”. Padahal anak tahu, dari pagi ayahnya baik-baik saja, dan sehat terus.

Bahkan, sempat menyangkul, membuat lubang untuk menanaman pohon mangga di belakang rumah, dan makannya pun lahap sehabis menanam pohon mangga.

Baca juga: Sejarah 26 April: Hari Wafatnya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

“Ing madya mangun karsa”. Ini peran di tengah. Guru atau pemimpin harus turun ke lapangan. Membaur dengan murid.

Membaur dengan masyarakat. Menyalakan semangat. Gak baperan. Gak jaga jarak.

Contoh, jika ada murid bingung, guru ikut diskusi bareng. Bukan cuma ceramah dari podium.

Membangun karsa/kehendak atau niat dari dalam diri murid. Satu hal yang penting kita fahami adalah pendidikan itu membakar semangat.

Bukan mencekoki atau menjejalkan. Usahakan murid mau belajar karena dari hatinya. Dari dirinya sendiri. Bukan karena takut hukuman.

“Tut wuri handayani”. Ini peran di belakang. Secara filosofis, sebenarnya ini yang paling dalam.

Setelah murid sudah jalan, tugas guru adalah mengawasi dari belakang, sambil memberikan dorongan.

Berikan ruang kepada murid untuk berbuat salah, supaya dia bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Contoh mengajari anak belajar naik sepeda. Awalnya dituntun, terus dipegangi. Lama-lama dilepas, tetapi tetap dijagai dari belakang.

Intinya tujuan akhir dari pendidikan adalah memerdekakan. Murid harus bisa mandiri.

Guru tidak selamanya menyuapi. Sampai sekarang semboyan “Tut Wuri Handayani” masih dipakai oleh Kementerian Pendikan Dasar dan Menengah.

Sayangnya melihat isu-isu terkini, isu-isu kontemporer, ajaran Ki Hajar Dewantara diplesetkan menjadi hal yang membuat miris bulu kuduk kita.

Membuat kita urut dada terhadap perilaku yang memuakkan. Ajaran yang agung tersebut diplesetkan menjadi “Ing ngarsa ngumbar angkara - Ing madya nglumpukke arta - Tut wuri melu nadahi”.

Tentu plesetan ini tidak layak untuk ditiru. Pemimpin di depan bukan memberikan contoh teladan yang baik.

Di depan malah mengumbar angkara, mengumbar nafsu, arogan, pamer jabatan dan mengedepankan pendekatan kekuasaan.

Contoh nyata, misalnya pejabat yang suka flexing, penganut budaya hedonisme, hanya mencari kepuasan dunia.

Suka memarahi bawahan di depan umum. Bikin kebijakan yang menguntungkan diri sendiri.

Di tengah, seorang pemimpin harusnya membangun semangat rakyat atau Tim. Alih-alih berbuat seperti itu.

Di tengah, malah sibuk mengumpulkan harta. Conntoh, harga proyek “dimark-up” atau digelembungkan. Anggaran rapat fiktif, dan contoh negatif lainnya. Posisi di tengah yang harusnya membuat kolaborasi, malah dipakai untuk transaksi. Pemimpin malah jadi makelar, bukan motivator.

Di belakang, seorang pemimpin harusnya mendorong anak buah biar bisa mandiri.

Tapi faktanya malah minta jatah. Kasus korupsi Wakil Menteri Tenaga Kerja adalah contoh nyata.

Tahu anak buah melakukan penyimpangan, melakukan korupsi, bukannya melarang, tapi malah minta “jatah”.

Tahu anak buah korup, bukannya menegur atau melarang, tapi malah bilang, “bagi-bagi dong”.

Baca juga: 25 Teks Pidato Singkat Hari Pendidikan Nasional 2026, Referensi Amanat Pembina Upacara Hardiknas!

Atau modus cuci tangan, “saya tidak tahu”, padahal pimpinan “kecipratan”. Jadi filosofi kritiknya bukannya ikut jagain dari belakang, tapi malah ikut jadi pemain di belakang layar.

Berbicara tentang pendidikan adalah bicara tentang investasi jangka panjang. Masih banyak persoalan yang dihadapi seputar pendidikan. Masalah kualitas guru, kesejahteraan guru.

Masalah ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, dan seabrek masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan.

Namun, pada kesempatan kali ini saya batasi pembicaraan masalah krisis karakter anak didik.

Masalah krisis karakter anak didik ini hampir merata di seluruh Indonesia. Tentu saja ada sekolah-sekolah yang tidak terlalu berat menghadapi problematika krisis karakter.

Kalau kita menyaksikan pemberitaan, baik di media mainstream maupun melalui sosial media, betapa seorang guru ketika mengajar, dan terutama pada saat memberikan pembinaan terhadap perilaku menyimpang dari murid, posisi guru “serba salah”.

Hatinya galau. Pikirannya gundah gulana. “Maju kena, mundur kena”. Guru tahu ada murid yang melanggar disiplin atau melanggar komitmen yang telah disepakati bersama.

Tapi mau ambil tindakan pendisiplinan, ia tidak berani mengambil langkah tegas. Takut diadukan kepada Dinas Pendidikan, diadukan ke pihak kepolisian, atau malah munculnya tindakan kekerasan dari orang tua murid.

Saat ini sulit ditemui karakter anak didik yang memiliki rasa hormat dan segan pada gurunya.

Kolega saya, seorang pengajar Sekolah Dasar Negeri, dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) nun jauh di sana.

Tepatnya seorang guru kelas 1  di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya, perilaku murid SD saat ini sudah pada tahap cukup “mengkhawatirkan”.

Bagaimana tidak? Murid kelas 1 SD sudah mengenal pacaran. Murid SD yang perempuan sudah mengenal kosmetik. Murid SD sudah bisa melakukan perundungan atau “bullying”.

Baik antar kawan pada kelas yang sama maupun dari dari senior atau kakak kelas kepada junior atau adik kelas.

Bahkan, yang lebih tragis lagi, di kelas 1 SD saja ada murid yang berperan sebagai pemalak. Ia meminta uang jajan kepada teman-temannya.

Ada cerita lagi yang lebih horor, seorang murid SD tewas di tangan kakak kandungnya yang masih sekolah di SMA. Adiknya dipukuli hingga meninggal dunia. Tentu tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Masalah berikutnya, siswa susah fokus. Siswa teriak-teriak di kelas, suaranya sangat keras.

Gaduh, seperti tidak ada aturan. Siswa susah dikendalikan. Berdasarkan pengalaman yang dituturkan kepada saya, ditengarai pola asuh di rumah sangat berpengaruh terhadap kepribadian atau perilaku anak. Anak memiliki orang tua, tetapi karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka harus berjibaku  banting tulang, peras keringat supaya mencukupkan kebutuhannya.

Akibatnya anak hanya diurus oleh neneknya hanya sambil lalu saja, atau diurus oleh kakaknya yang juga super sibuk. Akibatnya tumbuh kembang jiwa anak menjadi kurang sehat.

Baca juga: 30 Ide Caption Hardiknas 2026 untuk Status WhatsApp dan Feed Instagram

Berdasarkan penuturan seorang guru, di era kemajuan teknologi informasi, pengaruh negatif dari penggunaan hp, smart phone atau gadget memang luar biasa.

Gara-gara anak bangun kesiangan akibat main hp sampai larut malam dan anak tidak masuk sekolah, orang tua murid rela berbohong.

Orang tua japri kepada guru dan menyampaikan kalau anaknya kurang enak badan alias sakit.

Besoknya ketika si anak ditanya gurunya, “kenapa kemarin gak masuk sekolah?” Jawab murid, “karena bangun kesiangan”.

Sebenarnya anak masih polos, masih memiliki kejujuran. Justru orang tualah yang tidak disadari menularkan virus kebohongan.

Virus ketidak-jujuran. Model pola asuh seperti ini kalau dibiarkan secara terus menerus, si anak merasa bahwa melakukan perbuatan bohong itu tidak berdosa.

Bukan aib. Akibatnya dia akan terus menerus melakukan kebohongan untuk membela diri ketika berbuat salah.

Murid SD juga sudah paham dan bangga joget-jogetan ala TikTok dibanding tarian daerah.

Celakanya, ada juga guru aktif main TikTok dengan berseragam ASN. Tentu ini contoh yang tidak baik.

Ada istilah yang saya baru dengar dari penuturan seorang guru SD, istilah tersebut sifatnya “satir”, atau sindiran, yaitu adanya “generasi rebahan”.

Anak hobinya rebahan atau “mager”, malas gerak. Ia menggambarkan kalau diadakan upacara di sekolah, anak-anak seperti tidak punya tulang. Kalau berdiri tidak bisa lama. Tidak bisa tertib dan tidak memiliki sikap sempurna.

Bahkan, ia menuturkan pengalamannya, karena mengajar anak SD di lingkungan wilayah padat penduduk, kata-kata kasar, jorok, tidak sopan dan tidak sepatutnya muncul dari anak kelas 1 SD.

Lebih prihatin lagi, kondisi ini sangat sulit untuk diingatkan atau diluruskan, karena perlindungan dari Negara terhadap guru sangat lemah.

Di balik itu semua, ada juga sebagian kecil murid yang memiliki empati dan mungkin merasakan pendekatan seorang guru yang ia terima, sehingga anak-anak mengirimkan “surat cinta” tanda kasih sayang anak perempuan kepada seorang Ibu Guru. Koq bisa?

Katanya, di waktu istirahat, ia sering tidak masuk ke ruang guru, tetapi justru melakukan pendekatan kepada anak didik dan mengobrol.

Maklum usia kelas 1 SD pastilah mereka merindukan figur orang tua. 
Jadi seorang guru wanita tersebut dianggap sebagai figur ibunya sendiri, karena di rumah kurang kasih sayang dari orang tuanya.

Pertanyaanya sampai kapan guru bisa bertindak seperti itu, jika tingkat pendapatan mereka, tingkat kesejahteraan mereka kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah.

Ekosistem pendidikan akan berhasil manakala sekolah, guru, anak didik dan orang tua murid memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan masa depan anak.

Baca juga: Hardiknas 2026: Inilah Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2026 yang Diperingati Setiap Tanggal 2 Mei

Jangan sampai aduan anak tentang guru ditelan mentah-mentah oleh orang tua. Begitu juga guru, orang tua murid harus secara istiqamah, konsisten memberikan contoh yang baik.

Ungkapan dalam bahasa Jawa, “guru” adalah “digugu” dan “ditiru”. Artinya, guru itu “diikuti/ditaati” dan “dicontoh”, masih tetap terpatri di dada sang guru, di manapun Anda berada. Semoga. (*)

*) Mantan Kepala Biro Humas dan Kepala Diskominfo, serta mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.  

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved