Selasa, 2 Juni 2026

OPINI

Fatherless : Kesepian Generasi Modern

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus komunikasi digital, generasi modern justru menghadapi paradoks sosial

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/KUMALA
Dwi Yenie Kumala Sari Sulaiman, S. Pd., M. Pd (Penulis, Guru SMK di Samarinda) 

Dwi Yenie Kumala Sari Sulaiman, S. Pd., M. Pd (Penulis, Guru SMK di Samarinda)

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus komunikasi digital, generasi modern justru menghadapi paradoks sosial yang semakin nyata, yaitu semakin mudah terhubung, tetapi semakin sering merasa kesepian.

Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian dalam fenomena ini adalah meningkatnya kondisi fatherless, yaitu minimnya kehadiran figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional.

Ketika kondisi tersebut bertemu dengan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, lahirlah generasi yang rentan mengalami krisis identitas, kesepian emosional, dan gangguan kesehatan mental.

Fenomena fatherless tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah karena kematian atau perceraian. Dalam banyak kasus modern, ayah masih berada di rumah tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional.

Kesibukan pekerjaan, tekanan ekonomi, hingga pola komunikasi keluarga yang buruk menyebabkan hubungan antara ayah dan anak menjadi semakin jauh.

Anak tumbuh tanpa perhatian, arahan, serta kedekatan emosional yang seharusnya menjadi fondasi penting dalam perkembangan psikologis mereka.

Baca juga: Penjelasan Ahli Psikologi Forensik di Sidang Kasus Andrie Yunus, Ragukan Operasi Intelijen

Peran ayah dalam keluarga sebenarnya sangat besar. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga sumber keteladanan, perlindungan, dan pembentukan karakter anak.

Kehadiran ayah yang aktif terbukti membantu anak memiliki rasa percaya diri lebih baik, kestabilan emosi, dan kemampuan sosial yang lebih sehat. 

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless cenderung lebih mudah merasa kosong secara emosional, sulit mengontrol emosi, dan mencari validasi dari lingkungan luar.

Hal tersebut dapat berpotensi meningkatkan berbagai masalah sosial di kalangan remaja, seperti kenakalan, penyalahgunaan narkoba, perilaku agresif, hingga gangguan kesehatan mental.

Anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kedekatan emosional lebih mudah mencari pelarian di lingkungan negatif. Di sinilah media sosial berpengaruh sangat besar.

Oleh karena itu, sebagian besar dari mereka sebagai generasi yang telah hidup dalam budaya digital, akan menempatkan media sosial sebagai ruang utama untuk mencari perhatian, pengakuan, dan hubungan sosial.

Banyak remaja menghabiskan berjam-jam setiap hari hanya untuk memperoleh likes, komentar, atau pengakuan dari orang lain. Media sosial akhirnya menjadi tempat pelarian dari kesepian yang mereka rasakan di dunia nyata.

Namun, hubungan digital sering kali tidak mampu menggantikan kebutuhan emosional yang mendalam. Interaksi di media sosial cenderung bersifat semu dan sementara.

Banyak orang terlihat bahagia di layar, tetapi sebenarnya merasa hampa dalam kehidupan pribadi mereka. Anak-anak yang kehilangan figur ayah menjadi lebih rentan mencari penerimaan dari dunia maya.

Mereka mudah terpengaruh tren, tekanan sosial, bahkan hubungan yang tidak sehat demi mendapatkan rasa dihargai. Fenomena ini semakin diperparah oleh budaya perbandingan sosial di internet.

Kesepian modern akhirnya bukan lagi sekadar tidak memiliki teman, melainkan perasaan kosong meskipun berada di tengah keramaian digital.

Sementara itu, penggunaan media sosial berlebihan juga berhubungan dengan penurunan kualitas kesehatan mental, terutama pada remaja.

Kombinasi keduanya menciptakan tantangan besar bagi generasi saat ini. Fenomena fatherless juga dapat berdampak pada pembentukan identitas diri. Anak laki-laki dapat kehilangan figur panutan dalam memahami tanggung jawab, kedewasaan, dan pengendalian diri.

Anak perempuan yang tumbuh tanpa kehangatan ayah sering kali mengalami kesulitan membangun rasa aman emosional dalam hubungan sosial maupun percintaan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan keluarga di masa depan dan menciptakan siklus sosial yang terus berulang.

Anak yang tumbuh tanpa figur ayah sering mengalami kesulitan mengendalikan emosi dan membangun identitas diri yang sehat. Hal yang lebih buruk pun mungkin terjadi karenanya, seperti tawuran, geng motor, penyalahgunaan narkoba, pencurian, kekerasan seksual, hingga aksi brutal, menunjukkan adanya krisis karakter di kalangan generasi muda.

Baca juga: 4 Daerah di Kaltim yang Sama Sekali Tidak Punya Tenaga Psikologi Klinis

Banyak pelaku kriminal remaja berasal dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis atau minim perhatian orang tua, terutama figur ayah. Beberapa penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan rendahnya kemampuan membangun hubungan interpersonal pada anak.

Karena itu, masalah fatherless tidak dapat dianggap sebagai urusan pribadi semata. Ini adalah persoalan sosial yang membutuhkan perhatian keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan negara. Orang tua perlu menyadari bahwa kehadiran emosional jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik.

Ayah perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak, meluangkan waktu bersama keluarga, dan menjadi pendengar yang baik bagi perkembangan emosional anak.

Selain itu, pendidikan literasi digital juga penting agar generasi muda tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber validasi diri. 

Anak-anak perlu diajarkan membangun hubungan sosial yang nyata, sehat, dan bermakna di dunia nyata. Sekolah dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang komunikasi yang mendukung kesehatan mental remaja.

Pada akhirnya, ancaman terbesar dari fenomena fatherless bukan hanya hilangnya figur ayah, tetapi hilangnya arah pembentukan karakter generasi masa depan.

Kesepian generasi modern bukan hanya disebabkan oleh teknologi, tetapi juga oleh hilangnya kedekatan emosional dalam keluarga. Media sosial hanyalah alat, sementara akar persoalannya sering kali berasal dari relasi manusia yang semakin renggang. 

Ketika figur ayah kehilangan perannya dalam kehidupan anak, maka ruang kosong itu akan dicari di tempat lain, termasuk dunia digital yang belum tentu mampu memberikan kehangatan dan kasih sayang yang sebenarnya dibutuhkan manusia.

“Menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup dan tidak berhenti ketika seorang anak tumbuh dewasa.” — Jake Slope (*)

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved