Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Bahasa Kesunyian Skenario Adu Domba

Belakangan ini tersiar kabar mengenai klarifikasi Walikota Samarinda, Andi Harun yang kemudian jadi ramai sebagai bahan perbincangan

Tayang:
Editor: Budi Susilo
HO/Ali Kusno
Ali Kusno, M.Pd, Widyabasa, Kepakaran Linguistik Forensik dan Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Terbuka, tanggapi soal klarifikasi Walikota Samarinda, Andi Harun soal demo beberapa waktu lalu. Penggunaan diksi ‘meng-engineering’ merupakan hal krusial. Ini bentuk penolakan total terhadap keterlibatan secara organik dalam aksi massa. 

Bahasa Kesunyian Skenario Adu Domba

Oleh: Ali Kusno, M.Pd, Widyabasa, Kepakaran Linguistik Forensik dan Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Terbuka

Belakangan ini tersiar kabar mengenai klarifikasi Walikota Samarinda, Andi Harun yang kemudian jadi ramai sebagai bahan perbincangan di tengah masyarakat.

Klarifikasi itu muncul akibat nama Walikota Andi Harun ikut dicatut dalam teriakan barisan massa aksi di depan Kantor Gubernur Kaltim pada 21 Mei 2026 lalu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur

“... Jadi ini patut diduga ya memang sengaja ingin mengadu domba saya dengan Pak Gubernur, padahal hubungan saya dengan beliau dalam pelaksanaan pemerintahan tetap saling menghormati, tetap saling menghargai. Dan saya perlu tegaskan, untuk menghindari spekulasi apalagi menarik-narik saya dalam isu itu, itu tidak mungkin saya akan lakukan. Saya tidak mendapatkan keuntungan apa pun terhadap apa kegaduhan-kegaduhan itu. Ya, saya yakin Pak Gubernur juga akan bijak, karena andaikan itu terjadi pada saya misalnya, tentu cara saya melakukan analisis, saya akan mencari siapa yang paling diuntungkan. Ya, saya tidak perlu detail, tapi ini sangat sederhana menganalisisnya." (Selasar, 23 Mei 2025)

Aksi memang sudah selesai, tapi diskusi justru baru dimulai. Memang dalam perspektif linguistik forensik, teriakan ini merupakan instrumen distorsi yang memicu kegaduhan politik.

Bagi sebagian pihak, teriakan ini dapat dikonstruksi sebagai ‘alat bukti’ adanya mobilisasi. 

Derau (noise) ini terbukti memicu Pak Wali segera berbicara. Keberanian beliau sebuah langkah politik nan esensial.

Beliau sadar bahwa saat berdiri di depan lensa, setiap morfem dan gestur dapat menjadi data analisis forensik.

Ketika diunggah di media, itu sah untuk dibedah. Izin Pak Wali, perkenankan saya mencari jawaban di tengah ‘bahasa kesunyian’ narasi politik kita.

Analisis Linguistik Forensik Komprehensif 

Pertama, mari gunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Fairclough menekankan bahwa bahasa dapat menjadi instrumen kekuasaan untuk mendominasi realitas melalui praktik wacana.

Pak Wali secara konsisten menggunakan Verba Kognitif-Analitis (nonton, perhatikan, menganalisis, mencari) yang memosisikan diri sebagai subjek yang objektif dan rasional di tengah kekacauan naratif. 

Teknik Eksklusi Agensi yang digunakan sangat kuat pada frasa ‘meng-engineering’. Frasa lain yang ditekankan pada diksi ‘spontanitas’. Uhui.

Penggunaan verba tersebut bukan sekadar pilihan kata, melainkan strategi framing untuk delegitimasi lawan.

Fairclough menekankan bahwa penggunaan istilah teknis seperti engineering dalam wacana politik bertujuan untuk mengubah ‘tindakan’ lawan yang tampak organik menjadi sekadar ‘rekayasa mekanis’ yang tidak otentik.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved