Mutiara Ramadhan
KH M Cholil Nafis tentang Keistimewaan Bulan Ramadhan
Bagi orang yang beriman, datangnya bulan Ramadhan adalah kebahagiaan. Karena itu, mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Seakan-akan Ramadhan adalah momok yang harus dihindari, karena selama sebulan penuh kaum Muslimin diwajibkan berpuasa.
Di sinilah Ramadhan menjadi ujian keimanan kita:
Apakah kita menyambutnya dengan bahagia, penuh suka cita, atau justru menganggapnya sebagai beban?
Jemaah rahimakumullah, pemirsa sekalian,
Keistimewaan Ramadhan bagi orang beriman yang pertama adalah kedekatan dan keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, keintiman yang tidak kita temukan dalam ibadah lainnya.
Allah berfirman dalam hadis qudsi, bahwa setiap amal anak Adam kembali kepada dirinya sendiri. Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat kembali kepada kita dengan membersihkan harta dan menolong sesama. Haji pun memberikan manfaat rohani dan jasmani.
Namun puasa berbeda. Allah berfirman:
"Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Berapa balasannya? Tidak ada yang tahu.
Allah memberikan balasan minimal sepuluh kali lipat, bisa tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana kemuliaan Lailatul Qadar.
Inilah makna berkah: bertambahnya kebaikan.
Puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilakukan secara rahasia.
Ketika kita salat, orang lain melihat. Ketika zakat, orang lain tahu. Ketika haji, banyak orang terlibat. Tetapi puasa, tidak ada yang tahu kecuali Allah.
Seseorang yang tidak berpuasa karena haid, nifas, atau sakit siapa yang tahu?
Begitu juga orang yang berpuasa siapa yang tahu?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260218_KH-M-Cholil-Nafis-PhD.jpg)