Kamis, 28 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Prof Nasaruddin Umar - Puasa Menghilangkan Stres

Jika harapan tidak berkesesuaian dengan kenyataan maka di situ berpotensi timbul stres.

Tayang:
Editor: Syaiful Syafar
Tangkap Layar Youtube Masjid Istiqlal
SALAT TARAWIH PERDANA - Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyampaikan tausiyah sebelum salat tarawih perdana Ramadan 1447 H/2026 M di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam (18/2/2026). Dalam pesannya bertema Ramadan Hijau, Sahabat Alam, ia mengajak jemaah meneguhkan niat puasa sekaligus menjaga harmoni dengan alam. 

Orang-orang arif sering mengatakan, puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin.

Nabi Muhammad Saw juga pernah mengatakan: Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin). 

Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu. 

Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin.

Sebaliknya kita juga tidak bisa takjub sepenuhnya kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka merasa bahagia dan tenang.

Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya, karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT.

Rabbana atina fiduunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar (Ya Allah anugerahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka).

Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia akhirat.

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar - Keutamaan Bulan Ramadan

Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif.

"Dunia adalah cermin akhirat", demikian kata Nabi.

Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses.

Ibadah mahdhah seperti salat, zakat, haji, bahkan puasa pun membutuhkan cost.

Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.

Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin ialah menurut para ’arifin ialah menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.

Idealnya setiap orang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping istrinya Khadijah yang kaya dan bangsawan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved