Rabu, 27 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Prof Nasaruddin Umar - Menghindari Skandal Spiritual

Dalam lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.

Tayang:
Editor: Syaiful Syafar
Tangkap Layar Youtube Masjid Istiqlal
SALAT TARAWIH PERDANA - Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyampaikan tausiyah sebelum salat tarawih perdana Ramadan 1447 H/2026 M di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam (18/2/2026). Dalam pesannya bertema Ramadan Hijau, Sahabat Alam, ia mengajak jemaah meneguhkan niat puasa sekaligus menjaga harmoni dengan alam. 

Keangkuhan dan kesombongan spiritual tak ada ubahnya dengan kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu.

Orang-orang seperti inilah yang disebut di dalam Alquran tidak memiliki bekas-bekas sujud (atsar al-sujud).

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar - Puasa Menghilangkan Stres

Bekas sujud dalam Alquran bukan dengan sengaja menghitamkan dahi di atas kening seperti dilakukan segelintir orang yang memahami secara tekstual ayat tadi.

Atsar sujud ialah komitmen sosial yang tang tinggi dimiliki seseorang sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. 

Termasuk dalam kesombongan spiritual ialah menikmati pujian orang-orang yang mengaguminya lantaran banyaknya ibadah yang dilakukan. 

Mungkin ia melaksanakan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ada yang ditinggalkan, dan zikirnya jalan terus, lalu dengan enteng memandang enteng orang lain yang tidak seperti dengannya.

Amal-amal kebajikannya lebih banyak digunakan untuk mengaktualisasikan diri sehingga orang takjub dan menikmati pujian-pujian mereka. 

Padahal mungkin yang bersangkutan pada saat yang bersamaan ia meninggalkan aib-aib dan dosa-dosa langganan yang terus-menerus dilakukan.

Hanya karena keterampilannya menggunakan topeng-topeng kepalsuan maka ia tidak dipermalukan orang lain.

Baca juga: Prof Nasaruddin Umar: Awalilah Dengan Taubat

Kesombongan spiritual tetap akan menjadi tantangan umat masa depan.

Bahkan mungkin akan semakin meningkat seiring dengan makin berkembangnya alat komunikasi canggih yang dapat digunakan untuk memuji atau menerima pujian.

Ada fenomena, jika tidak ada yang memuji, misalnya dengan mencium tangan atau berbagai macam bentuk kultus lainnya, maka seharian itu kehilangan semangat.

Semakin banyak yang memujinya semakin mabuk dengan pujian itu, lantas rekayasa dilakukan sedemikian rupa agar orang lain memujinya. Subhanallah. (*)

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved