Jumat, 17 April 2026

Cerita Para Kiai

Kisah Haji Muhammad Ikhsan Wahab, Ketua MUI Sikka: Agama Harus Hadir dalam Aksi, Bukan Sekadar Dalil

Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks.

Tribun Flores/Tribun Flores
CERITA PARA KIAI- Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks.(Tribun Flores) 

TRIBUNKALTIM.CO -  Bagi sebagian orang, agama kerap dipahami sebatas hafalan ayat dan dalil.

Namun bagi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pemahaman semacam itu belumlah utuh.

Ia meyakini nilai keberagamaan justru teruji dalam praktik nyata di tengah masyarakat yang beragam.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks.

Baca juga: Kiai Namru, Ulama Mamuju yang Menjadikan Dakwah sebagai Jalan Hidup

Menurutnya, esensi agama ditemukan dalam apa yang ia sebut sebagai “teks kehidupan”, yakni praktik kemanusiaan sehari-hari yang memberi manfaat nyata bagi sesama.

Pandangan tersebut tak lepas dari pengaruh sang ayah, almarhum H. Abdul Rasyid Wahab atau yang akrab disapa Abah Rasyid.

Di Maumere, Kabupaten Sikka, Abah Rasyid dikenal sebagai tokoh Muslim yang konsisten merawat toleransi di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik.

Warisan Dialog dan Toleransi

Ikhsan mengenang, nilai toleransi yang ia pahami bukan sekadar wacana, melainkan tradisi hidup yang tumbuh dari kebiasaan berdialog di meja makan keluarganya.

Di ruang sederhana itu, berbagai persoalan sosial dibahas secara terbuka.

“Beliau (Abah Rasyid) bukan hanya orang tua, tapi sahabat diskusi yang asyik. Persoalan kemanusiaan dan problem masyarakat luas dituangkan dalam dialog di ruang makan. Dari sana kami mendapatkan nilai tentang keakraban sesama manusia dan bagaimana mencari jalan keluar bagi beban masyarakat,” ujar Ikhsan saat ditemui di Masjid Darussalam Waioti, Maumere, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Jejak Pengabdian KH Mursyidin di Sultra, dari Hafidz ke Ketua MUI

Abah Rasyid dikenal luas sebagai simbol toleransi dan “penjaga perdamaian” di Sikka.

Pada 2018, ia menerima MAARIF Award, penghargaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemajemukan di Indonesia. Ia wafat pada 4 Oktober 2023 di Maumere.

Bagi Ikhsan, sosok ayahnya adalah kompas moral yang membentuk keyakinannya bahwa agama harus hadir sebagai solusi, bukan sumber persoalan.

Melampaui Teks Buku

Ikhsan mengakui, latar belakang pendidikannya di lingkungan pesantren serta studi hukum Islam di Jakarta sempat membentuk cara pandang yang tekstual, yakni menekankan pemahaman literal terhadap kitab-kitab agama.

Namun sepulang ke Maumere, intensitas interaksinya dengan sang ayah mengubah perspektif tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved