Cerita Para Kiai
Kisah Haji Muhammad Ikhsan Wahab, Ketua MUI Sikka: Agama Harus Hadir dalam Aksi, Bukan Sekadar Dalil
Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Haji Muhammad Ikhsan Wahab, menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti pada teks.
Ia menyadari bahwa ada dimensi keberagamaan yang lebih luas daripada sekadar literatur keagamaan.
Baca juga: Mengenal Masjid KH Muhammad Sajid di Tenggarong Kukar, Rumah Ibadah yang Ramah Tamu Terbaik Nasional
Pengalaman mendampingi ayahnya dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), wadah dialog lintas agama untuk menjaga harmoni sosial, hingga ke pelosok Pulau Palue mempertegas pandangannya.
Di sana, ia melihat agama dipraktikkan secara pragmatis dalam arti positif: ajaran yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang membantu masyarakat.
“Kalau beragama itu merusak atau menghancurkan, itu bukan agama. Agama harus memberikan makna dan mengurangi beban kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Gagasan Kapal Kemanusiaan
Salah satu gagasan yang kini terus ia kawal adalah “Kapal Kemanusiaan”.
Inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan terhadap warga pulau yang kesulitan mengakses layanan kesehatan saat cuaca buruk menghambat transportasi laut.
Kapal itu dirancang sebagai sarana transportasi darurat yang dapat membantu siapa pun tanpa memandang latar belakang agama.
Bagi Ikhsan, inisiatif tersebut mencerminkan nilai dasar agama: menghadirkan keselamatan dan kemaslahatan bagi manusia.
Melalui pendekatan itu, ia ingin memastikan bahwa keberagamaan di Sikka tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi energi sosial yang memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Baca juga: Kisah Gus Yusron Shidqi, Putra KH Hasyim Muzadi yang Temukan Titik Balik di Gontor
Akar Sejarah dan Budaya Kawin-Mawin
Ketua MUI Sikka dua periode ini menjelaskan bahwa kerukunan di "Bumi Nian Tana" Sikka memiliki akar historis yang kuat.
Ia mencontohkan sejarah keluarganya sendiri di Geliting, di mana asimilasi budaya melalui pernikahan beda agama sudah lazim terjadi sejak zaman nenek moyang.
"Nenek saya memiliki saudara yang menikah dengan Raja Thomas. Budaya kawin-mawin ini sudah terjadi sejak lama. Kita berasal dari satu nenek moyang yang sama, jadi buat apa saling menjatuhkan?" kata Ikhsan.
Semangat inklusivitas ini juga ia terapkan dalam dunia pendidikan sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maumere.
Ikhsan mengampu mata kuliah Agama Multikultural, sebuah ruang di mana mahasiswa Muslim, Katolik, dan Protestan duduk bersama memotret persoalan kemanusiaan.
"Pendidikan agama tidak boleh hanya berhenti pada aspek kognitif atau menghafal dalil, tetapi harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik"jelas Ikhsan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260302_Cerita-Para-kiai.jpg)