Kamis, 28 Mei 2026

Mutiara Ramadhan

Hakikat Silaturrahim

Kata silaturrahim tersusun dari dua kata, yaitu shilah berarti menghubungkan, to connect, dan rahim kasih sayang, unconditional love.

Tayang:
Editor: Amalia Husnul A
Tangkap Layar Youtube Masjid Istiqlal
MUTIARA RAMADAN - Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyampaikan tausiyah sebelum salat tarawih perdana Ramadan 1447 H/2026 M di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu malam (18/2/2026). Mutiara Ramadan dari Menag Nasaruddin Umar hari ini adalah tentang silaturrahim. Puasa diharapkan juga untuk menggapai kekuatan silaturrahim. (Tangkap Layar Youtube Masjid Istiqlal). 

Nabi banyak mencontohkan silaturrahim dengan makhluk non-manusia.

Nabi Sulaiman bersahabat dengan binatang, burung, dan ikan liar.

Ia juga bersahabat dengan angin, jin, dan malaikat.

Mereka semua membantu menyelesaikan problem dan tantangan yang dihadapinya.

Sufi perempuan Rabi'ah al-'Adawiyah juga bersahabat dengan binatang buas dan burung liar, seperti halnya bisa kita saksikan kekhususan yang dimiliki oleh para pawang binatang buas.

Imam al-Agazali, Ibnu 'Arabi di antara gurunya adalah roh nabi dan para auliya yang wafat jauh sebelum masa hidupnya.

Nabi Muhammad memberi nama terhadap binatang peralatan sehari-harinya, seperti unta, kuda, cangkir, dan sisir.

Ia juga mengajari kita memberi salam kepada rumah kosong dan kuburan.

Baca juga: Menangis

Silaturrahim memberikan energi spiritual untuk lebih eksis dalam menjalani kehidupan.

Banyak sekali ayat dan hadis menganjurkan perlunya silaturrahim.

Antara lain, kata Rasulullah, silaturrahim memperpanjang umur dan hadis lainnya dikatakan  silaturrahim memperbanyak rezeki.

Kita harus berani meminta maaf dan memaafkan orang lain yang pernah bermasalah dengan kita.

Semakin berat silaturrahim itu dilakukan semakin besar pula pahala yang diperoleh.

Kita sering kali mendengarkan ucapan: "Saya sudah memaafkan tetapi saya belum bisa melupakan".

Konsep silaturrahim di dalam Islam tidak seperti itu, tetapi bagaimana menghapus secara total memori negatif orang lain di dalam diri kita.

Jika kita bisa melakukan seperti ini maka kita sebagai warga bangsa, tentu akan berpengaruh lebih luas di dalam konsep perawatan keutuhan bangsa yang sangat penting itu.

Jika pribadi dan anggota keluarga sebagai cikal bakal dan unsur masyarakat bisa akur, maka masyarakat bangsa Indonesia juga akan terlihat utuh dan takkan pernah tergoyahkan sedikit pun oleh kekuatan dari manapun. (*)

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved